Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
Info Warga

18 Tahun Terhenti, Kirab Kembali Menghidupkan Jejak Tradisi Tionghoa di Semarang

×

18 Tahun Terhenti, Kirab Kembali Menghidupkan Jejak Tradisi Tionghoa di Semarang

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

SEMARANG – Setelah hampir dua dekade berhenti, sebuah tradisi kembali menyusuri jalan-jalan Kota Semarang pada hari Minggu (09/08/2026). Kirab yang terakhir digelar pada 2008 itu kembali dihidupkan oleh generasi muda sebagai upaya merawat ingatan, memperkenalkan kebudayaan Tionghoa, sekaligus menjaga keberadaan kelenteng sebagai ruang ibadah dan pusat kehidupan budaya masyarakat.

Hoo Han Lung, Ketua Panitia Ulang Tahun Yang Mulia Kongco Kwan Sing Tee Koen di Klenteng Hoo Hok Bio, mengatakan kembalinya kirab setelah 18 tahun bukan sekadar mengulang kegiatan masa lalu. Bagi generasi muda, momentum tersebut menjadi upaya untuk membangkitkan kembali tradisi yang sempat terhenti.

“Kalau kita bicara kirab ini, sebenarnya kita mengulang kembali apa yang pernah dilakukan 18 tahun yang lalu. Terakhir pada 2008. Sekarang anak-anak muda, generasi muda kita mencoba membangkitkan lagi, menghidupkan kembali,” ujar Hoo Han Lung.

Menurut Hoo Han Lung, kebangkitan kirab berangkat dari kesadaran bahwa tradisi tidak cukup hanya disimpan di dalam bangunan kelenteng. Tradisi perlu dibawa keluar, diperkenalkan kepada masyarakat, dan diberi ruang untuk hidup di tengah perubahan zaman.

Karena itu, kirab memiliki setidaknya dua tujuan utama. Pertama, mengenalkan kembali kebudayaan dan tradisi Tionghoa kepada masyarakat luas, terutama generasi muda. Kelenteng tidak hanya dipandang sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai bagian dari perjalanan sejarah dan mozaik kebudayaan Kota Semarang. Kedua, kirab dimaknai sebagai bentuk berbagi berkat kepada masyarakat di sepanjang jalur yang dilalui.

Bagi sebagian masyarakat yang memiliki keyakinan tersebut, perjalanan kirab mengelilingi kawasan kota bukan sekadar perpindahan dari satu tempat ke tempat lain. Arak-arakan menjadi simbol doa dan harapan agar keberkahan dapat dirasakan masyarakat sekitar.

“Sebagian orang memiliki kepercayaan bahwa kirab ini kalau keliling, muter, itu memberikan berkat kepada masyarakat sekitar di Kota Semarang. Jadi semuanya dapat berkat,” kata Hoo Han Lung.

Tradisi yang berasal dari komunitas tertentu bergerak keluar dari batas-batas identitas. Ia menyapa warga dengan latar belakang agama, budaya, dan kehidupan yang beragam. Jalan raya berubah menjadi ruang perjumpaan, sementara kelenteng menjadi salah satu simpul dari kehidupan kebudayaan masyarakat Semarang.

Persoalan terbesar dalam pelestarian budaya bukan semata-mata bagaimana sebuah tradisi diselenggarakan hari ini, melainkan apakah tradisi tersebut masih memiliki penerus pada masa depan. Kesadaran itulah yang membuat generasi muda mengambil bagian dalam menghidupkan kembali kirab yang sempat terhenti. Sebab, tradisi yang tidak diwariskan pada akhirnya hanya akan menjadi cerita.

Generasi muda tidak cukup hanya menjadi penonton. Mereka perlu mengetahui mengapa sebuah ritual dilakukan, apa maknanya, bagaimana prosesnya, serta nilai apa yang terkandung di dalamnya.

Baca Juga :  UMKM Hidupkan Kampung Takjil Ramadhan serta Tingkatkan Perekonomian Rakyat

Hoo Han Lung berharap kirab tidak berhenti pada penyelenggaraan kali ini.

“Harapannya ke depan, acara kirab ini bisa terus berkelanjutan. Mungkin bisa dilakukan setiap tiga atau lima tahun sekali. Yang penting berkelanjutan, sehingga tradisi dan budaya kita ini tidak punah,” ujarnya.

Harapan itu terdengar sederhana. Namun di tengah perubahan zaman, keberlanjutan sebuah tradisi bukan perkara kecil. Generasi muda hidup dalam dunia yang bergerak cepat. Budaya populer datang dan pergi dalam hitungan hari. Media sosial mengubah cara anak muda mengenal dunia. Dalam situasi seperti itu, tradisi lokal menghadapi tantangan untuk tetap relevan.

Karena itu, menghidupkan kembali kirab setelah 18 tahun memiliki arti lebih jauh daripada sekadar mengulang sebuah agenda lama.

Ia merupakan upaya menyambungkan kembali tiga generasi: mereka yang pernah menjalankan tradisi, mereka yang kini menghidupkannya kembali, dan generasi yang diharapkan akan meneruskannya.

Kirab juga memperlihatkan bahwa kebudayaan tidak selalu berada di museum, buku sejarah, atau ruang pertunjukan.

Kebudayaan dapat berjalan. Ia dapat hadir di jalanan, dilihat masyarakat, didengar melalui bunyi-bunyian tradisional, dan dirasakan melalui interaksi antar manusia.

Dalam konteks Semarang, hal tersebut menjadi penting. Kota ini sejak lama dikenal sebagai ruang pertemuan berbagai kebudayaan. Jejak Jawa, Tionghoa, Arab, Eropa, dan berbagai kelompok masyarakat lainnya bertemu dan membentuk identitas kota.

Kirab menjadi salah satu cara untuk mengingat kembali kenyataan tersebut. Di tengah arus modernisasi, keberadaan tradisi bukan berarti menolak perubahan. Sebaliknya, tradisi dapat menjadi cara sebuah masyarakat memahami dari mana mereka berasal sebelum menentukan ke mana mereka akan pergi.

Kirab yang kembali setelah 18 tahun itu pada akhirnya bukan hanya tentang masa lalu. Ia adalah pertanyaan untuk masa depan. Apakah generasi berikutnya masih mengenal tradisi ini? Jawabannya tidak hanya ditentukan oleh mereka yang menyelenggarakannya hari ini, tetapi oleh kesediaan generasi muda untuk meneruskan apa yang telah diwariskan.

Jika kirab kembali dilakukan tiga atau lima tahun mendatang, mungkin wajah orang-orang yang berada dalam barisan akan berubah. Anak-anak yang hari ini hanya menyaksikan, kelak mungkin menjadi penggeraknya. Di situlah sebuah tradisi benar-benar hidup—bukan karena terus mengulang masa lalu, tetapi karena selalu menemukan generasi baru yang bersedia membawanya ke masa depan. Kirab itu akhirnya bukan sekadar perjalanan mengelilingi kota. Ia adalah perjalanan sebuah ingatan: dari leluhur, kepada generasi hari ini, dan menuju generasi yang belum lahir.(msa)

Example 300250
Example 120x600