ACEH SINGKIL –Kebutuhan pokok rumah tangga di Aceh Singkil, seperti beras, gula, telur, tepung, cabai, hingga bawang, harga di pasar terus merangkak naik sehingga inflasi pun susah mengendalikannya.
Terkait dengan inflasi di Aceh Singkil, dari keterangan Ketua Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Aceh Singkil melalui sekretarisnya Rully Suhaidi, SKM, kepada awak media, Rabu (3/9/2025), saat ini inflasi di Aceh Singkil tergolong tinggi.
Secara nasional, kata Rully, sempat menduduki posisi tertinggi.
“Inflasi Aceh Singkil, pernah berada di urutan kedua nasional, angka ini tentu mengkhawatirkan. Namun Alhamdulillah, pada minggu keempat Agustus kondisi mulai membaik,” tutur Rully.
Kini inflasi Aceh Singkil, jelas Rully lagi, sudah turun ke peringkat empat nasional. Mudah-mudahan tren ini terus menurun.
Rully yang juga menjabat sebagai Kabag Ekonomi Setdakab Aceh Singkil ini menyebutkan, tiga komoditas utama penyumbang inflasi di Aceh Singkil, adalah beras, cabai merah, dan bawang merah.
TPID bersama Pemkab Aceh Singkil serta berkolaborasi dengan institusi lain, langsung menyiapkan berbagai solusi dan strategi.
“Langkah yang dilakukan antara lain sidak pasar untuk memastikan ketersediaan dan harga, menggelar operasi pasar murah, hingga mendorong masyarakat menanam sendiri, seperti cabai, bawang dan lain-lain di setiap kecamatan. Dengan begitu, kita tidak sepenuhnya bergantung pada pasokan luar daerah,” jelasnya.
Selain itu, Aceh Singkil juga memperkuat kerja sama antar daerah (KAD). Dengan Kabupaten Aceh Barat Daya, misalnya, sudah berjalan kerja sama pasokan beras.
Sementara dengan Kota Subulussalam, terjalin pertukaran komoditas: Aceh Singkil memasok ikan laut, sedangkan Subulussalam menyuplai ikan air tawar.
“Kolaborasi ini sangat penting untuk menjaga ketersediaan pangan, menekan inflasi, dan menstabilkan harga di pasar,” pungkas Rully. (Joni)



























