{"id":67197,"date":"2026-09-02T22:34:32","date_gmt":"2026-09-03T06:34:32","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaglobalindonesia.com\/?p=67197"},"modified":"2026-09-02T22:34:32","modified_gmt":"2026-09-03T06:34:32","slug":"warga-dan-pegiat-budaya-sampaikan-kekhawatiran-atas-rencana-geothermal-gunung-ungaran","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaglobalindonesia.com\/?p=67197","title":{"rendered":"Warga dan Pegiat Budaya Sampaikan Kekhawatiran atas Rencana Geothermal Gunung Ungaran"},"content":{"rendered":"<p><strong>KABUPATEN SEMARANG<\/strong> \u2014 Rencana pengembangan proyek panas bumi (geothermal) di kawasan Gunung Ungaran, Kabupaten Semarang, kembali memantik penolakan. Sekitar 100 warga, pegiat budaya, pemerhati lingkungan, pencinta alam, pendaki gunung, serta komunitas masyarakat dari sejumlah daerah berkumpul di kawasan Lembah Kendalisada, Rabu (2\/9\/2026), untuk menyuarakan penolakan terhadap rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) tersebut.<\/p>\n<p>Gerakan tersebut mencuat menyusul adanya keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terkait pengembangan geothermal Gunung Ungaran. Warga menilai rencana tersebut perlu dikaji secara menyeluruh karena kawasan Gunung Ungaran tidak hanya memiliki potensi sumber daya alam, tetapi juga menjadi ruang kehidupan masyarakat, kawasan pertanian, sumber mata air, serta berada di sekitar Situs Cagar Budaya Candi Gedong Songo.<\/p>\n<p>Pertemuan yang dikemas dalam rembug bersama kepedulian terhadap Gunung Ungaran dan Candi Gedong Songo itu berlangsung kondusif. Peserta menyampaikan pandangan, kekhawatiran, serta tuntutan agar pemerintah membuka ruang dialog dan kajian yang transparan sebelum kegiatan pengeboran dilaksanakan.<\/p>\n<p>Kegiatan juga diwarnai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan sejumlah lagu nasional. Para peserta kemudian menyampaikan aspirasi melalui orasi, diskusi, hingga pertunjukan teatrikal dan sastra bertajuk \u201cGerakan Kita melalui Teatrikal Sastra Bergema di Gunung Ungaran.\u201d<\/p>\n<p>Tokoh budaya Miko Alfian mengatakan masyarakat budaya memiliki tanggung jawab untuk menjaga keberadaan Candi Gedong Songo yang dinilai memiliki nilai sejarah dan kebudayaan tinggi.<\/p>\n<p>\u201cKita sebagai masyarakat budaya akan mempertahankan dan melindungi situs Candi Gedong Songo dari berbagai ancaman yang dapat merusak kelestariannya. Situs ini merupakan peninggalan leluhur Nusantara yang memiliki nilai sejarah sangat tinggi,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Miko juga menyampaikan kekhawatiran terhadap kemungkinan dampak aktivitas pengeboran panas bumi terhadap lingkungan dan kawasan permukiman di sekitar Gunung Ungaran. Menurutnya, setiap rencana pembangunan harus mempertimbangkan keberadaan situs budaya sekaligus kehidupan masyarakat yang berada di kawasan tersebut.<\/p>\n<p>Pemerhati lingkungan Rahman Kendalisodo, yang disebut sebagai salah satu penggagas gerakan, menyampaikan sikap serupa. Ia meminta pemerintah tidak hanya melihat aspek ekonomi dan kebutuhan energi, tetapi juga mempertimbangkan risiko lingkungan, sosial, budaya, serta keberlangsungan kehidupan masyarakat.<\/p>\n<p>Kekhawatiran mengenai sumber daya air juga menjadi salah satu isu utama dalam pertemuan tersebut. Bopo Sutikno, pemerhati Tosan Aji Kabupaten Semarang, meminta adanya kajian terbuka mengenai kemungkinan perubahan kondisi sumber mata air apabila kegiatan pengeboran dilakukan.<\/p>\n<p>\u201cYang harus dijelaskan kepada masyarakat adalah bagaimana dampaknya terhadap ketersediaan air. Sumber air dari Gunung Ungaran digunakan masyarakat untuk berbagai kebutuhan, termasuk pertanian,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Budayawan setempat Suparmin juga meminta rencana pengeboran dikaji secara hati-hati. Ia menyoroti informasi mengenai rencana pengeboran hingga kedalaman sekitar 2.000 meter yang menurutnya menjadi salah satu sumber kekhawatiran warga.<\/p>\n<p>Menurut Suparmin, pemerintah perlu memastikan aspek keselamatan, lingkungan, sumber air, serta keberadaan situs budaya sebelum kegiatan dilanjutkan.<\/p>\n<p>\u201cKalau memang ada potensi risiko terhadap lingkungan, sumber air, situs budaya maupun keselamatan masyarakat, jangan terburu-buru. Semua harus dipastikan aman melalui kajian yang terbuka dan dapat dipertanggungjawabkan,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p>Bambang Wilis, pencinta alam sekaligus pendaki gunung, menyatakan penolakan terhadap eksploitasi sumber daya alam, khususnya rencana pengeboran geothermal di Gunung Ungaran. Ia menyampaikan sejumlah alasan yang menjadi dasar penolakan masyarakat. Pertama, lokasi rencana pengembangan dinilai berdekatan dengan Situs Cagar Budaya Candi Gedong Songo. Kedua, masyarakat meminta perlindungan terhadap warisan budaya tersebut sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan mengenai cagar budaya. Ketiga, kawasan Gunung Ungaran memiliki sejumlah sumber mata air yang dimanfaatkan masyarakat. Keempat, lereng Gunung Ungaran menjadi kawasan pertanian yang menjadi sumber penghidupan warga.<\/p>\n<p>\u201cTujuan pembangunan pembangkit listrik tenaga panas bumi mungkin mulia, tetapi masyarakat ingin memastikan bagaimana pelaksanaannya. Jangan sampai pembangunan justru menimbulkan dampak yang merugikan warga di sekitar Candi Gedong Songo,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Penolakan serupa disampaikan Emi, warga yang mengaku telah mencintai alam sejak dini. Ia menilai kelestarian ekosistem Gunung Ungaran perlu dipertahankan dan meminta pemerintah mempertimbangkan dampak jangka panjang setiap kegiatan eksploitasi sumber daya alam.<\/p>\n<p>Pegiat budaya dan sejarah sekaligus anggota kelompok pemangku Gedong Songo, Noor Hayati, menilai pembangunan geothermal berpotensi menimbulkan perubahan terhadap keseimbangan lingkungan fisik, budaya, ekonomi, dan sosial masyarakat di lereng Gunung Ungaran.<\/p>\n<p>Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga situs-situs sejarah yang masih berada di kawasan tersebut.<\/p>\n<p>\u201cMasih banyak potensi sejarah dan situs yang belum seluruhnya diketahui. Jangan sampai pembangunan justru membuat warisan budaya yang seharusnya dapat dipelajari generasi mendatang menjadi terancam,\u201d imbuhnya.<\/p>\n<p>Menurut Noor Hayati, masyarakat petani dan pedagang di sekitar lereng Gunung Ungaran juga harus menjadi bagian penting dalam setiap kajian. Sebab, perubahan kondisi lingkungan dapat berpengaruh terhadap aktivitas ekonomi masyarakat.<\/p>\n<p>Pemangku adat Gedong Songo Supoyo juga menyampaikan penolakan dari masyarakat Banyukuning. Menurutnya, posisi wilayah tersebut berada di bawah kawasan Gunung Ungaran sehingga masyarakat merasa perlu mendapatkan kepastian mengenai aspek keselamatan dan lingkungan apabila proyek dilaksanakan. Ia juga meminta pemerintah memperhatikan kemungkinan dampak terhadap aliran sungai dan sumber mata air yang selama ini digunakan masyarakat.<\/p>\n<p>Kekhawatiran serupa disampaikan Suwarsono dari Kandang, Gunungpati. Ia menyinggung ketergantungan masyarakat terhadap sumber air yang berasal dari kawasan Gunung Ungaran, termasuk Tuk Mudal.<\/p>\n<p>Menurut dia, masyarakat yang selama bertahun-tahun memanfaatkan sumber air tersebut membutuhkan kepastian bahwa aktivitas pengeboran tidak akan mengganggu ketersediaan air.<\/p>\n<p>\u201cKalau sumber air terganggu, yang terdampak bukan hanya satu atau dua orang. Kehidupan masyarakat, pertanian, dan kebutuhan sehari-hari sangat bergantung pada air,\u201d ungkapnya.<\/p>\n<p>Dari wilayah Mlilir atau Bandungan, tokoh masyarakat yang dikenal dengan nama Pak Bokir menyebut sekitar 90 persen masyarakat yang ia wakili menolak rencana geothermal Gunung Ungaran.<\/p>\n<p>Sementara Dadang dari Sumowono menyoroti aspek hukum perlindungan cagar budaya. Ia meminta setiap rencana pembangunan dipastikan tidak bertentangan dengan ketentuan perlindungan situs cagar budaya.<\/p>\n<p>Perwakilan Banyubiru juga menyampaikan penolakan dengan alasan perlunya menjaga Gunung Ungaran sebagai bagian dari kekayaan alam dan warisan untuk generasi mendatang.<\/p>\n<p>Pendeta Agus Apriyanto menambahkan, Candi Gedong Songo merupakan peninggalan peradaban masa lalu yang menunjukkan tingginya pengetahuan dan kebudayaan masyarakat Nusantara pada zamannya.<\/p>\n<p>\u201cWarisan seperti ini bukan hanya milik masyarakat hari ini. Kita mempunyai tanggung jawab untuk mewariskannya kepada anak cucu,\u201d tegasnya.<\/p>\n<p>Penolakan juga datang dari kalangan pencinta alam dan pendaki. Midun meminta pemerintah belajar dari pengalaman pengembangan geothermal di kawasan lain, termasuk Dieng. Ia mengaku memperoleh informasi mengenai keluhan masyarakat terkait kondisi lahan dan sumber air di sejumlah wilayah sekitar proyek geothermal Dieng. Namun, ia menekankan bahwa pengalaman tersebut perlu dikaji secara objektif dan tidak serta-merta dijadikan kesimpulan bahwa proyek Gunung Ungaran akan mengalami dampak yang sama.<\/p>\n<p>Midun juga mempertanyakan urgensi pembangunan pembangkit baru dengan merujuk pada data yang menurutnya menunjukkan kapasitas kelistrikan Jawa Tengah masih memiliki cadangan.<\/p>\n<p>\u201cKalau kebutuhan listrik masih dapat dipenuhi, pemerintah perlu menghitung kembali urgensi pengeboran di Gunung Ungaran. Jangan sampai kebutuhan energi hari ini justru mengorbankan sumber daya alam yang dibutuhkan masyarakat dalam jangka panjang,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Babe Dipo alias Nyonyo dari Solidaritas Gunung Ungaran turut menyuarakan penolakan. Ia menyebut masyarakat di wilayah Boja, Limbangan, dan Singorojo juga memiliki ketergantungan terhadap sumber air dan kesuburan kawasan Gunung Ungaran. Menurutnya, rencana pembangunan harus memastikan manfaat ekonomi benar-benar dirasakan masyarakat sekitar, bukan hanya pihak yang berada di luar kawasan.<\/p>\n<p>Gerakan penolakan tersebut kemudian diarahkan untuk membangun jejaring komunikasi lintas daerah. Perwakilan dari Salatiga, Ambarawa, Blora, Kendal, Ungaran, Kota Semarang, Pemalang, Banyubiru, Sumowono, Bandungan, Boja, Gunungpati, hingga wilayah lain hadir dalam pertemuan tersebut.<\/p>\n<p>Perwakilan Salatiga, Radit Mahendra, menilai isu Gunung Ungaran tidak hanya menjadi kepentingan masyarakat Kabupaten Semarang. Menurutnya, kawasan tersebut memiliki fungsi ekologis dan sejarah yang lebih luas sehingga perlu mendapatkan perhatian bersama.<\/p>\n<p>Sementara itu, Ito mengingatkan agar pemerintah menjelaskan secara transparan tujuan, manfaat, risiko, serta mekanisme pengelolaan apabila pengeboran geothermal benar-benar dilaksanakan.<\/p>\n<p>\u201cYang perlu ditanyakan adalah siapa yang mendapatkan manfaat dan bagaimana masyarakat sekitar dilindungi. Kalau terjadi risiko lingkungan, siapa yang bertanggung jawab? ,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Perwakilan dari Semarang bawah dan Blora juga menyerukan penguatan jejaring komunikasi agar masyarakat dari berbagai daerah dapat menyampaikan aspirasi secara terkoordinasi.<\/p>\n<p>Dimas, pemerhati lingkungan yang selama ini juga berkomunikasi dengan pemerintah, menyatakan kesediaannya ikut mengawal proses dialog dan memberikan masukan dari perspektif lingkungan.<\/p>\n<p>Pemerhati sejarah Derry Aditya menambahkan, kawasan Gunung Ungaran masih menyimpan potensi situs sejarah yang belum seluruhnya teridentifikasi. Karena itu, ia meminta penelitian dan inventarisasi warisan budaya dilakukan sebelum aktivitas yang berpotensi mengubah kawasan dilaksanakan.<\/p>\n<p>Rembug di Lembah Kendalisada tersebut menjadi titik awal pembentukan ruang-ruang diskusi di sejumlah wilayah. Para pegiat budaya, lingkungan, dan komunitas pencinta alam berencana menyediakan basecamp sebagai ruang menampung aspirasi masyarakat.<\/p>\n<p>Ruang diskusi tersebut akan dikembangkan di sejumlah wilayah, antara lain Kendalisodo, Ungaran, Boja, Gunungpati, Salatiga, Bringin, Sumowono, Bandungan, dan kawasan sekitar Gedong Songo.<\/p>\n<p>Para peserta sepakat bahwa penolakan terhadap geothermal Gunung Ungaran perlu disampaikan melalui dialog, kajian, dan gerakan masyarakat yang terorganisasi. Mereka juga meminta pemerintah membuka seluruh informasi mengenai rencana proyek, termasuk kajian lingkungan, aspek geologi, dampak terhadap sumber air, perlindungan situs cagar budaya, keselamatan masyarakat, serta manfaat ekonomi bagi warga sekitar.<\/p>\n<p>Bagi masyarakat yang hadir, Gunung Ungaran bukan sekadar lokasi sumber energi. Kawasan tersebut merupakan ruang hidup, sumber air, lahan pertanian, kawasan ekologis, sekaligus bagian dari sejarah dan kebudayaan masyarakat.<\/p>\n<p>Karena itu, mereka meminta setiap keputusan mengenai masa depan Gunung Ungaran tidak hanya dihitung dari nilai investasi dan produksi energi, tetapi juga dari seberapa besar kemampuan pembangunan tersebut menjaga lingkungan, kebudayaan, serta kehidupan masyarakat untuk generasi yang akan datang.(msa)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>KABUPATEN SEMARANG \u2014 Rencana pengembangan proyek panas bumi&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":67198,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"kia_subtitle":"","footnotes":""},"categories":[33],"tags":[],"newstopic":[],"class_list":["post-67197","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v28.5 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Warga dan Pegiat Budaya Sampaikan Kekhawatiran atas Rencana Geothermal Gunung Ungaran - Berita Global Indonesia<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/beritaglobalindonesia.com\/?p=67197\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Warga dan Pegiat Budaya Sampaikan Kekhawatiran atas Rencana Geothermal Gunung Ungaran - Berita Global Indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"KABUPATEN SEMARANG \u2014 Rencana pengembangan proyek panas bumi...\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/beritaglobalindonesia.com\/?p=67197\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Berita Global Indonesia\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-09-03T06:34:32+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/beritaglobalindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/IMG_20260903_142530.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"300\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"225\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Redaksi\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Redaksi\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"9 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/beritaglobalindonesia.com\\\/?p=67197#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/beritaglobalindonesia.com\\\/?p=67197\"},\"author\":{\"name\":\"Redaksi\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/beritaglobalindonesia.com\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/d34a52aefdba7a15bc64dc69a7414158\"},\"headline\":\"Warga dan Pegiat Budaya Sampaikan Kekhawatiran atas Rencana Geothermal Gunung Ungaran\",\"datePublished\":\"2026-09-03T06:34:32+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/beritaglobalindonesia.com\\\/?p=67197\"},\"wordCount\":1455,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/beritaglobalindonesia.com\\\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/beritaglobalindonesia.com\\\/?p=67197#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/beritaglobalindonesia.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/09\\\/IMG_20260903_142530.jpg\",\"articleSection\":[\"Berita\"],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/beritaglobalindonesia.com\\\/?p=67197\",\"url\":\"https:\\\/\\\/beritaglobalindonesia.com\\\/?p=67197\",\"name\":\"Warga dan Pegiat Budaya Sampaikan Kekhawatiran atas Rencana Geothermal Gunung Ungaran - Berita Global Indonesia\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/beritaglobalindonesia.com\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/beritaglobalindonesia.com\\\/?p=67197#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/beritaglobalindonesia.com\\\/?p=67197#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/beritaglobalindonesia.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/09\\\/IMG_20260903_142530.jpg\",\"datePublished\":\"2026-09-03T06:34:32+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/beritaglobalindonesia.com\\\/?p=67197#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/beritaglobalindonesia.com\\\/?p=67197\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/beritaglobalindonesia.com\\\/?p=67197#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/beritaglobalindonesia.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/09\\\/IMG_20260903_142530.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/beritaglobalindonesia.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/09\\\/IMG_20260903_142530.jpg\",\"width\":300,\"height\":225},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/beritaglobalindonesia.com\\\/?p=67197#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Beranda\",\"item\":\"https:\\\/\\\/beritaglobalindonesia.com\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Warga dan Pegiat Budaya Sampaikan Kekhawatiran atas Rencana Geothermal Gunung Ungaran\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/beritaglobalindonesia.com\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/beritaglobalindonesia.com\\\/\",\"name\":\"Berita Global\",\"description\":\"Cepat Akurat Terpercaya\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/beritaglobalindonesia.com\\\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/beritaglobalindonesia.com\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/beritaglobalindonesia.com\\\/#organization\",\"name\":\"Berita Global\",\"url\":\"https:\\\/\\\/beritaglobalindonesia.com\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/beritaglobalindonesia.com\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/beritaglobalindonesia.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/06\\\/logo-removebg-preview.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/beritaglobalindonesia.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/06\\\/logo-removebg-preview.png\",\"width\":990,\"height\":147,\"caption\":\"Berita Global\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/beritaglobalindonesia.com\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"}},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/beritaglobalindonesia.com\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/d34a52aefdba7a15bc64dc69a7414158\",\"name\":\"Redaksi\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/26c5e26883bff557023e2dd1b3ac0c3f58397430ddf9895a918dc9ac7e8243c7?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/26c5e26883bff557023e2dd1b3ac0c3f58397430ddf9895a918dc9ac7e8243c7?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/26c5e26883bff557023e2dd1b3ac0c3f58397430ddf9895a918dc9ac7e8243c7?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Redaksi\"},\"url\":\"https:\\\/\\\/beritaglobalindonesia.com\\\/?author=3\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Warga dan Pegiat Budaya Sampaikan Kekhawatiran atas Rencana Geothermal Gunung Ungaran - Berita Global Indonesia","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/beritaglobalindonesia.com\/?p=67197","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Warga dan Pegiat Budaya Sampaikan Kekhawatiran atas Rencana Geothermal Gunung Ungaran - Berita Global Indonesia","og_description":"KABUPATEN SEMARANG \u2014 Rencana pengembangan proyek panas bumi...","og_url":"https:\/\/beritaglobalindonesia.com\/?p=67197","og_site_name":"Berita Global Indonesia","article_published_time":"2026-09-03T06:34:32+00:00","og_image":[{"width":300,"height":225,"url":"https:\/\/beritaglobalindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/IMG_20260903_142530.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Redaksi","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"Redaksi","Estimasi waktu membaca":"9 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/beritaglobalindonesia.com\/?p=67197#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/beritaglobalindonesia.com\/?p=67197"},"author":{"name":"Redaksi","@id":"https:\/\/beritaglobalindonesia.com\/#\/schema\/person\/d34a52aefdba7a15bc64dc69a7414158"},"headline":"Warga dan Pegiat Budaya Sampaikan Kekhawatiran atas Rencana Geothermal Gunung Ungaran","datePublished":"2026-09-03T06:34:32+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/beritaglobalindonesia.com\/?p=67197"},"wordCount":1455,"publisher":{"@id":"https:\/\/beritaglobalindonesia.com\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/beritaglobalindonesia.com\/?p=67197#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/beritaglobalindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/IMG_20260903_142530.jpg","articleSection":["Berita"],"inLanguage":"id"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/beritaglobalindonesia.com\/?p=67197","url":"https:\/\/beritaglobalindonesia.com\/?p=67197","name":"Warga dan Pegiat Budaya Sampaikan Kekhawatiran atas Rencana Geothermal Gunung Ungaran - Berita Global Indonesia","isPartOf":{"@id":"https:\/\/beritaglobalindonesia.com\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/beritaglobalindonesia.com\/?p=67197#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/beritaglobalindonesia.com\/?p=67197#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/beritaglobalindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/IMG_20260903_142530.jpg","datePublished":"2026-09-03T06:34:32+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/beritaglobalindonesia.com\/?p=67197#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/beritaglobalindonesia.com\/?p=67197"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/beritaglobalindonesia.com\/?p=67197#primaryimage","url":"https:\/\/beritaglobalindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/IMG_20260903_142530.jpg","contentUrl":"https:\/\/beritaglobalindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/IMG_20260903_142530.jpg","width":300,"height":225},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/beritaglobalindonesia.com\/?p=67197#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Beranda","item":"https:\/\/beritaglobalindonesia.com\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Warga dan Pegiat Budaya Sampaikan Kekhawatiran atas Rencana Geothermal Gunung Ungaran"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/beritaglobalindonesia.com\/#website","url":"https:\/\/beritaglobalindonesia.com\/","name":"Berita Global","description":"Cepat Akurat Terpercaya","publisher":{"@id":"https:\/\/beritaglobalindonesia.com\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/beritaglobalindonesia.com\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/beritaglobalindonesia.com\/#organization","name":"Berita Global","url":"https:\/\/beritaglobalindonesia.com\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/beritaglobalindonesia.com\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/beritaglobalindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/logo-removebg-preview.png","contentUrl":"https:\/\/beritaglobalindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/logo-removebg-preview.png","width":990,"height":147,"caption":"Berita Global"},"image":{"@id":"https:\/\/beritaglobalindonesia.com\/#\/schema\/logo\/image\/"}},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/beritaglobalindonesia.com\/#\/schema\/person\/d34a52aefdba7a15bc64dc69a7414158","name":"Redaksi","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/26c5e26883bff557023e2dd1b3ac0c3f58397430ddf9895a918dc9ac7e8243c7?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/26c5e26883bff557023e2dd1b3ac0c3f58397430ddf9895a918dc9ac7e8243c7?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/26c5e26883bff557023e2dd1b3ac0c3f58397430ddf9895a918dc9ac7e8243c7?s=96&d=mm&r=g","caption":"Redaksi"},"url":"https:\/\/beritaglobalindonesia.com\/?author=3"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaglobalindonesia.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/67197","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaglobalindonesia.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaglobalindonesia.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaglobalindonesia.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaglobalindonesia.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=67197"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/beritaglobalindonesia.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/67197\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":67199,"href":"https:\/\/beritaglobalindonesia.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/67197\/revisions\/67199"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaglobalindonesia.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/67198"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaglobalindonesia.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=67197"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaglobalindonesia.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=67197"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaglobalindonesia.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=67197"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaglobalindonesia.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fnewstopic&post=67197"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}