SIDOARJO – Di tengah arus zaman yang terus bergerak dan tantangan kebangsaan yang tak pernah surut, Perkumpulan Lintas Iman Indonesia Merayakan Perbedaan (IMP) kembali meneguhkan komitmennya terhadap perdamaian dan persaudaraan. Untuk ketujuh kalinya, IMP menyelenggarakan Halal Bihalal Lintas Iman pada hari Selasa, 15 April 2025, bertempat di Yayasan Pesantren Ahlus-Shofa wal Wafa, Simoketawang, Wonoayu, Sidoarjo.
Lebih dari sekadar tradisi, acara ini telah menjadi ruang batin yang menyulam benang-benang kasih, pengampunan, dan semangat kebangsaan dalam balutan keberagaman yang indah. Bukan sekadar seremoni, tapi Spirit yang hidup.
Halal Bihalal IMP bukan sekadar milik umat Islam. Ia telah menjadi milik semua insan beriman yang mencintai kedamaian dan menghargai perbedaan. Para tokoh dari berbagai agama dan kepercayaan hadir, bukan sebagai simbol formalitas, tetapi sebagai pejuang kasih yang menyuarakan nilai-nilai kemanusiaan dari dasar spiritual ajaran masing-masing.
Berikut para rohaniawan lintas iman yang hadir dan menyampaikan pandangan spiritual mereka yaitu Islam: KH. Mohammad Nizam As-shofa (Abuya As-shofa) – Ketua Umum IMP, Pembina dan Pengasuh YP. Ahlus-shofa wal Wafa, Kristen: Pdt. Simon Filantropha – Pegiat Lintas Iman, HAM, dan Lingkungan, Katolik: Jusi Qwensi – Anggota Komisi HAK Keuskupan Surabaya, Hindu: Prof. Dr. Ir. I Nyoman Sutantra, M.Sc. – Anggota Sabha Walaka PHDI Pusat, Dosen Teknik Mesi
n ITS, Buddha: Romo Dany Jatmiko – Magabudhi Jawa Timur, Khonghucu: Ws. Liem Tiong Yang – Wakil Ketua MAKIN Surabaya “Boen Bio”, Ketua Parakhin Jawa Timur, Penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan YME: Romo Naen Soeryono, S.H., M.H. – Ketua Umum PERSADA Pusat, Presidium MLKI Pusat.
Dalam pidatonya yang menggugah hati, Gus Nizam,Sapaan akrab KH.Mohamad Nizam As-shofa, menyerukan pentingnya menjaga ruang-ruang silaturahmi sebagai pilar utama ketahanan bangsa silaturahmi adalah nafas bangsa. Acara seperti ini bukan hanya harus terus dilanjutkan, tapi harus diwariskan. Ini bukan semata seremoni, ini adalah sumbu kecil yang terus menyalakan lentera Indonesia sebagai rumah bersama. “Kita rawat bangsa ini dengan silaturahmi dan kasih sayang, sesuai dengan jiwa Pancasila dan nafas Bhinneka Tunggal Ika. Seruan itu diakhiri dengan pekikan semangat khas IMP, “Indonesia Merayakan Perbedaan!” Yang disambut meriah oleh seluruh hadirin “Semua Saudara!,” ungkapnya.
Tujuh tahun jejak cinta dalam Perbedaan. Tujuh kali Halal Bihalal IMP telah menjadi saksi ketulusan perjumpaan. Di tengah riuhnya perbedaan pendapat dan tantangan polarisasi sosial, perhelatan ini tampil sebagai penanda bahwa Indonesia masih memiliki ruang teduh untuk merawat persatuan, dari kalangan pesantren hingga ruang publik lintas iman. Dalam keheningan spiritual dan pelukan perbedaan, para tokoh menyampaikan pesan yang sama bahwa agama tidak memecah, melainkan menyatukan. “Bahwa iman bukan sekat, tetapi jembatan untuk saling mencintai dan memahami,” katanya.
“IMP telah menjadi pelita kebangsaan yang tak pernah padam—menyinari jalan kita menuju Indonesia yang rukun, damai, dan setia menjaga keberagaman sebagai anugerah,” pungkasnya.(ma/msa)



























