Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
Berita

Berawal dari Panggilan Iman, Yohanes Dirikan PAUD Ester di Pelosok Alor

×

Berawal dari Panggilan Iman, Yohanes Dirikan PAUD Ester di Pelosok Alor

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

ALOR – Yohanes menceritakan, berdirinya PAUD Ester bermula dari sebuah pengalaman spiritual yang dialami keluarganya pada tahun 2012. Saat itu, istrinya bermimpi mendengar sebuah suara yang berkata, “Pergi, masih banyak orang membutuhkanmu.” Pesan tersebut terus terngiang dan mengusik pikiran mereka hingga akhirnya menjadi dasar pengambilan keputusan besar dalam hidup.

“Dari suara itulah kami terdorong untuk meninggalkan semua yang kami miliki. Dengan iman kepada Tuhan Yesus, kami memutuskan meninggalkan Surabaya dan memilih tinggal di sebuah dusun kecil, di mana masyarakat hidup dalam segala keterbatasan dan ketertinggalan,” ujar Yohanes saat di hubungi awak media pada tanggal 15 Januari 2026.

Melihat kondisi tersebut, Yohanes bersama keluarga terus berdoa untuk mencari cara agar dapat memberi dampak nyata bagi lingkungan sekitar. Doa itu terjawab ketika mereka mendapat keyakinan untuk membuka lembaga pendidikan anak usia dini yang diberi nama PAUD Ester.

PAUD Ester didirikan dengan visi menjadi duta atau agen perubahan, serta mengemban tiga misi utama, yaitu menanamkan kehidupan yang takut akan Tuhan, membangun keseimbangan antara kecerdasan intelektual (IQ) dan kecerdasan emosional (EQ), serta memberikan dampak positif bagi keluarga dan lingkungan.

Baca Juga :  Paska Banjir Bandang, Rumah Sakit Umum Mokopido Tolitoli Dipadati Pasien dan Air PDAM tidak Mengair

Pada awal perjalanannya, PAUD Ester memulai kegiatan belajar mengajar dengan 12 murid dan 3 guru. Dalam kurun waktu tiga bulan, lembaga ini telah memperoleh izin operasional dari Dinas Pendidikan Kabupaten Alor, yang menjadi tonggak penting dalam pengelolaan pendidikan formal di wilayah tersebut.

Keberadaan PAUD Ester juga menarik perhatian pihak luar. Yohanes mengungkapkan, lembaga ini sempat dikunjungi wisatawan asal Prancis sebanyak dua kali, meskipun fasilitas yang dimiliki masih sangat sederhana.

“Gedung belajar kami bangun secara swadaya dari kayu dan bambu. Namun karena dimakan usia, bangunan tersebut akhirnya rusak dan kegiatan belajar kami pindahkan ke rumah tinggal,” jelasnya.

Saat ini, Yohanes mengaku pihaknya tengah bergumul mencari donatur untuk membangun gedung belajar yang lebih layak demi menunjang proses pendidikan anak-anak.

“Kami berharap ada dukungan dari berbagai pihak agar anak-anak di dusun ini bisa belajar dengan aman dan nyaman,” pungkasnya.(msa)

Example 300250
Example 120x600