Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
Berita

Ancaman Krisis Air Mengintai Batam, Tokoh Masyarakat Desak Reboisasi Sejak Dini

×

Ancaman Krisis Air Mengintai Batam, Tokoh Masyarakat Desak Reboisasi Sejak Dini

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

BATAM – Batam kembali dihadapkan pada kekhawatiran besar terkait masa depan ketersediaan air bersih. Kerusakan hutan dan semakin berkurangnya kawasan resapan air dinilai menjadi ancaman serius yang dapat membawa kota industri tersebut menuju krisis air dalam sepuluh tahun mendatang apabila tidak segera ditangani secara serius oleh pemerintah dan seluruh pihak terkait.

Tokoh masyarakat Sei Beduk, Asian Sinaga, dalam wawancara via telepon pada Sabtu, 9 Mei 2026, menyampaikan keprihatinannya terhadap kondisi lingkungan di Batam yang menurutnya semakin mengkhawatirkan. Ia menilai pembabatan hutan dan penggundulan kawasan perbukitan yang terus terjadi demi kepentingan investasi dapat berdampak buruk terhadap cadangan air bersih masyarakat di masa depan.

Menurutnya, Batam memiliki kondisi geografis yang berbeda dibandingkan banyak daerah lain di Indonesia. Kota ini tidak memiliki sumber mata air alami dari pegunungan besar. Selama ini, kebutuhan air masyarakat sangat bergantung pada tadah hujan yang ditampung melalui waduk-waduk buatan. Karena itu, keberadaan hutan dan kawasan hijau menjadi sangat penting sebagai penyangga ekosistem dan daerah resapan air.

Baca Juga :  Nelayan di Kampung Kasai dan Semating Resah, Alat Tangkap Rusak Akibat Rumpon Makin Banyak

Asian Sinaga menegaskan bahwa apabila gunung-gunung dan hutan di Batam terus dibabat habis tanpa kendali, maka daya serap tanah terhadap air hujan akan semakin berkurang. Akibatnya, waduk tidak akan mampu menampung air secara maksimal ketika musim hujan datang. Di sisi lain, saat musim kemarau berkepanjangan terjadi, masyarakat akan merasakan dampak kekurangan air bersih yang lebih parah dibandingkan saat ini.

Ia juga mengingatkan bahwa persoalan lingkungan tidak boleh dipandang sebagai isu biasa atau sekadar wacana pembangunan semata. Menurutnya, pemerintah harus berhenti bersikap lamban dalam menyikapi persoalan kerusakan alam yang semakin nyata terjadi di berbagai wilayah Batam. Reboisasi dan perlindungan kawasan hutan harus menjadi program prioritas demi menyelamatkan masa depan generasi mendatang.

“Kita jangan hanya sibuk membangun gedung dan kawasan industri, tetapi lupa menjaga alam. Kalau hutan habis, Batam bisa mengalami kekeringan besar sepuluh tahun mendatang. Air di Batam ini hanya mengandalkan hujan, tidak ada sumber mata air pegunungan seperti daerah lain,” ungkapnya.

Baca Juga :  Pensiunan Jaksa Soroti Draf RUU KUHAP

Kekhawatiran serupa juga disampaikan oleh Aleks, warga Galang, dalam wawancara pada Sabtu, 9 Mei 2026. Ia menilai kondisi lingkungan di beberapa wilayah Batam, khususnya kawasan perbukitan dan hutan penyangga, sudah mengalami perubahan yang cukup drastis dalam beberapa tahun terakhir. Banyak lahan hijau yang kini berubah menjadi kawasan pembangunan dan pembukaan lahan baru.

Aleks mengatakan bahwa masyarakat sebenarnya tidak menolak pembangunan maupun investasi, namun pembangunan harus tetap memperhatikan keseimbangan lingkungan. Jika seluruh kawasan hijau terus dikorbankan tanpa perencanaan yang matang, maka dampaknya akan dirasakan langsung oleh masyarakat kecil dalam bentuk kesulitan memperoleh air bersih.

Menurutnya, ancaman krisis air bukan lagi sekadar prediksi, tetapi sudah mulai terlihat dari menurunnya debit beberapa waduk ketika musim kemarau berlangsung cukup lama. Ia berharap pemerintah daerah maupun pihak terkait segera melakukan langkah nyata berupa penghijauan kembali kawasan hutan, pengawasan ketat terhadap pembukaan lahan, serta memperbanyak daerah resapan air di seluruh wilayah Batam.

Baca Juga :  Pengembangan SDM, Komitmen PT Berau Coal dalam Membangun Pendidikan Berkualitas

Persoalan air bersih memang menjadi isu yang sangat vital bagi masyarakat Batam. Sebagai kota kepulauan yang berkembang pesat dalam sektor industri dan pemukiman, kebutuhan air terus meningkat setiap tahun. Di sisi lain, kerusakan lingkungan yang terjadi secara perlahan dapat mempercepat ancaman krisis apabila tidak diantisipasi sejak sekarang.

Berbagai kalangan menilai bahwa pembangunan berkelanjutan harus menjadi perhatian utama agar pertumbuhan ekonomi tidak justru menghancurkan sumber kehidupan masyarakat sendiri. Reboisasi, perlindungan hutan, dan penataan pembangunan yang ramah lingkungan dinilai menjadi langkah penting untuk menjaga keberlangsungan pasokan air bersih di Batam pada masa depan.

**Nursalim Turatea

Example 300250
Example 120x600