Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
Berita

Hangatnya Silaturahmi Waisak di Aula Sanggar Metta di Kabupaten Semarang: Lintas Agama Kumpul Jadi Satu

×

Hangatnya Silaturahmi Waisak di Aula Sanggar Metta di Kabupaten Semarang: Lintas Agama Kumpul Jadi Satu

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

KABUPATEN ​SEMARANG – Pemandangan yang menyejukkan hati tersaji jelas di Aula Sanggar Metta, Kabupaten Semarang, pada Selasa (02/06/2026). Ruangan yang sehari-harinya bising oleh ketukan ritme dinamis dan derap langkah kaki para penari dari Sanggar Tari Metta tersebut, mendadak berubah atmosfernya menjadi penuh kehangatan, senyum, dan jabat tangan erat dalam acara open house perayaan Hari Raya Waisak.

​Pemilik Sanggar Metta, Rama Pujiyanto, tampak sibuk namun sumringah menyambut kedatangan para tamu. Menariknya, para tamu yang hadir tidak hanya dari kalangan umat Buddha saja, melainkan datang dari berbagai elemen masyarakat yang sangat majemuk. Mulai dari tetangga sekitar yang beragama Muslim, Kristen, Katolik, para tokoh lintas iman, pegiat seni budaya, hingga jajaran perwakilan instansi pemerintah daerah berkumpul membaur tanpa sekat.

​Rama Pujiyanto menceritakan bahwa tradisi open house Waisak di sanggarnya sebenarnya rutin digelar minimal selama tiga hari berturut-turut. Namun, untuk perayaan tahun ini, situasinya terbilang cukup menantang karena berkejaran dengan jadwal pentas besar di ibu kota.

​”Biasanya kita open house minimal tiga hari. Tapi untuk tahun ini, tempat ini benar-benar digunakan secara maraton untuk latihan intensif anak-anak Sanggar Tari Metal. Sebab, tanggal 5, 6, dan 7 Juni esok kami dijadwalkan harus tampil pentas di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta,” ujar Rama Puji saat berbincang hangat di sela-sela acara.

Baca Juga :  Pemkab Aceh Singkil Salurkan bantuan Untuk korban banjir dan longsor di Desa Pulo Sarok

​Meskipun waktu dan tempat sangat terbatas di tengah jadwal latihan yang padat, Rama Puji menegaskan silaturahmi dengan masyarakat tidak boleh terputus. Baginya, esensi sejati dari belajar agama adalah melahirkan rasa kemanusiaan dan persaudaraan.

​”Tujuannya ya itu saja, supaya kita tetap saling berkomunikasi, tetap saling menjalin persahabatan, pertemanan, dan kekeluargaan. Itulah indahnya orang beragama kalau mau silaturahmi. Kerukunan di sini sangat baik sekali, kita saling menghormati dan menjaga persatuan. Setinggi-tingginya orang belajar agama, sedalam-dalamnya belajar agama, pada dasarnya yang dibutuhkan adalah persaudaraan karena kita tidak bisa hidup sendiri,” imbuhnya dengan penuh ketulusan.

​Ia juga menyelipkan pesan mendalam bagi generasi muda yang hadir. “Bagi generasi muda, ini adalah momen mentransfer nilai-nilai luhur Pancasila, kebersamaan, dan persamaan. Apalagi Indonesia terdiri dari banyak sekali suku bangsa. Open house ini adalah wujud nyata dari Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa. Harapan saya, selagi masih muda, selagi ada waktu dan kesempatan, berbuatlah baik kepada banyak orang. Itu saja,” urai Rama Puji.

Baca Juga :  Uji Materi Iwakum Dikabulkan, MK Pertegas Perlindungan Wartawan

​Kehangatan dan kerukunan yang tercipta di Aula Sanggar Metta ini turut mengundang decak kagum dari Pembimbing Masyarakat Buddha Kanwil Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah, Karbono, S.Ag., M.Pd., yang hadir langsung di lokasi.

​Karbono menilai, sosok Rama Pujiyanto merupakan figur tokoh masyarakat sejati yang patut menjadi panutan (di-makmumi) oleh lintas kepercayaan. “Romo Puji ini dihormati bukan hanya oleh orang-orang budaya atau umat Buddha saja, tapi lintas kepercayaan. Saat Waisak ini, beliau membuka pintu rumahnya, dan yang datang justru mayoritas dari latar belakang yang berbeda-beda. Ini bagus sekali,” puji Karbono.

​Ia menambahkan, iklim toleransi yang kuat di Sanggar Metta merupakan cerminan dari karakter asli masyarakat Jawa Tengah yang dikenal adaptif dan damai sejak dulu kala. Melalui wadah sanggar seni yang dikelola Romo Puji, anak-anak muda tidak hanya diajarkan menari hingga berprestasi ke luar Jawa, tetapi juga ditempa karakternya agar berjiwa inklusif.

​Namun, di tengah rasa bangga tersebut, Karbono juga menyelipkan sebuah warning atau pesan penting yang cukup krusial bagi generasi muda zaman sekarang yang tak bisa lepas dari gawai dan media sosial.

Baca Juga :  Samsat Kabupaten Bekasi Beri Pelayanan Publik Cepat Ramah Efisien dan Komitmen

​”Saat ini yang paling mengerikan adalah peran media sosial. Dunia digital itu kan tidak ada saringannya, tidak ada proteksinya secara otomatis. Oleh karena itu, generasi muda sendiri yang harus pintar-pintar memproteksi diri terhadap berita-berita yang beredar,” tegas Karbono.

​Karbono mewanti-wanti agar para remaja dan pemuda masa kini tidak menelan mentah-mentah informasi di internet, apalagi sembarangan menyebarkan berita yang belum jelas kebenarannya (hoaks). Kemampuan menyaring informasi ini dinilai menjadi kunci utama agar pemuda tidak mudah dipecah belah.

​”Saya rasa ketika semua pemuda bisa memproteksi dirinya, bisa menimbang-nimbang mana yang baik dan mana yang tidak baik, serta tidak sembarangan meneruskan berita yang belum tentu benar, itu akan menjaga pemuda kita tetap bersatu. Ingat, pemuda adalah generasi masa depan bangsa. Indonesia sudah mencanangkan Generasi Emas 2045, dan yang akan menggantikan estafet kepemimpinan di pemerintahan nanti adalah anak-anak muda ini. Tugas kita yang tua adalah mengarahkan mereka ke jalan yang benar lewat kegiatan positif seperti di sanggar ini,” pungkas Karbono menutup perbincangan. (msa)

Example 300250
Example 120x600