Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
NewsPolitik

Dr. Djonggi Simorangkir: Paslon dan Partai yang Kalah Sebaiknya Menjadi Oposisi

×

Dr. Djonggi Simorangkir: Paslon dan Partai yang Kalah Sebaiknya Menjadi Oposisi

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

JAKARTA– Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI akan menetapkan pemenang Pilpres Prabowo – Gibran di kantor KPU RI, Jakarta, pada Rabu (24/4/2024). Sedangkan menurut advokat senior Dr. Djonggi Simorangkir SH MH pasangan calon (Paslon) dan partai yang kalah, lebih baik jadi oposisi.

Pasalnya, Hakim Mahkamah Konstitusi (MK) telah menolak permohonan sengketa hasil Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 yang diajukan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 01 dan 03, Anies Baswedan – Muhaimin Iskandar dan Ganjar Pranowo – Prof Mahfud M.D

Berdasarkan hal itu, prakrisi hukum yang juga pengamat politik Dr. Djonggi Simorangkir SH MH angkat bicara. Memurutnya pemilu di Indonesia sudah selesai, meskipun berlangsung dengan riuh rendah hasil suara.

“Paslon 01 Anis Baswedan – Muhaimin Iskandar dan pasangan paslon 03 Ganjar Pranowo – Prof. Mahfud M.D. Mereka tidak setuju hasil yang didapat Paslon 02 Prabowo – Gibran. Lantas, perseteruan 01 dan 03 dengan 02 dibawa ke Mahkamah Konstitusi, lalu putusan Hakim MK 5 Orang Hakim menolak Gugatan 01 dan 03, namun 3 Orang Hakim MK berpendapat berbeda atau disebut Dissenting Opinion,” ujarnya via Whatsaap di Jakarta pada Selasa (23/4/2024).

Baca Juga :  Pj. Wali Kota Bekasi Hadiri Rakornas Kesiapan Jaga Netralitas ASN pada Pemilihan Serentak 2024

Nah, yang menjadi masalah besar, mampukah 01 dan 03 menjadi oposisi agar tidak mengkhianati rasa keadilan Rakyat yang mendukungnya atau Partainya. Sebaiknya kata Djonggi Paslon dan partai yang kalah harus menjadi oposisi. Tujuannya agar dapat mengawasi berjalannya pemerintahan dengan benar sesuai ketentuan hukum yang berlaku.

“Dengan menjadi oposisi, hukum dapat tegak dilaksanakan atau berjalan penegakan hukum dengan benar di Indonesia, sesuai ketentuan Hukum yang berlaku. Agar jangan terjadi pelanggaran hukum untuk menjadi negara maju, adil makmur dan sejahtera,” tegasnya.

Menurut Djonggi mereka lebih baik jadi oposisi dari pada ikut dalam pemerintahan dan ikut-ikutan korupsi. Karena yang menjadi masalah besar saat ini, banyak politikus miskin, termasuk miskin Ilmu sehingga tidak mampu berdiri sendiri mencari makan diluar partai dan pemerintahan. Hal ini sangat berbeda dengan politikus keturunan Tionghoa. (Amris)

Example 300250
Example 120x600