Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
Wisata

Kampung Melayu Semarang, Jejak Harmoni Lintas Etnis dan Warisan Cagar Budaya

×

Kampung Melayu Semarang, Jejak Harmoni Lintas Etnis dan Warisan Cagar Budaya

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

SEMARANG –  Kelurahan Dadapsari terus mendorong pengembangan potensi wisata berbasis sejarah (heritage) di kawasan Kampung Melayu. Kawasan ini dinilai memiliki kekuatan tidak hanya dari sisi peninggalan sejarah, tetapi juga keberagaman budaya yang telah terjaga lintas generasi.

Lurah Dadapsari, Hesti Karyani, SE, saat di hubungi awak media pada hari Rabu (15/04/2026) menyebut sejumlah destinasi unggulan di Kampung Melayu, di antaranya Masjid Menara, Klenteng Kam Hok Bio, rumah-rumah lawas, serta Masjid Soleh Darat.

“Wisata di wilayah kami didominasi wisata sejarah atau heritage. Ini menjadi kekuatan utama Kampung Melayu,” ujarnya.

Meski demikian, pengelolaan destinasi wisata di kawasan tersebut hingga kini masih bersifat mandiri. Belum ada sistem pengelolaan terpadu yang menaungi seluruh objek wisata.

“Seperti klenteng masih dikelola pengelola internal, begitu juga Masjid Soleh Darat dan Masjid Menara,” kata Hesti.

Untuk mendukung pengembangan kawasan, fasilitas pendukung seperti gazebo yang menjadi ikon Kampung Melayu mendapatkan perawatan dari Dinas Pariwisata. Pemerintah kelurahan juga telah membentuk Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) yang tengah dikembangkan menuju konsep desa wisata.

“Di dalamnya ada beberapa kelompok masyarakat yang memiliki semangat untuk mengembangkan wisata di Kampung Melayu,” ujarnya.

Menurut Hesti, keterlibatan generasi muda mulai terlihat dalam upaya pengembangan wisata. Sejumlah remaja telah bergabung dalam Pokdarwis dan aktif berkontribusi.

“Alhamdulillah, anak-anak muda sudah mulai ikut terlibat. Ini menjadi modal penting untuk keberlanjutan wisata ke depan,” katanya.

Di sisi lain, Kampung Melayu juga dikenal sebagai potret nyata keberagaman yang hidup harmonis. Kawasan ini dihuni oleh berbagai etnis, seperti Arab, Tionghoa, Jawa, India, dan Melayu, yang telah lama hidup berdampingan.

Baca Juga :  Tri Adhianto Tabur Cairan Methylene Blue & Eco Enzyme Tingkatkan Kualitas Air Danau Duta Harapan

Salah satu simbol keberagaman tersebut adalah Klenteng Kam Hok Bio atau Klenteng Dewa Bumi. Klenteng yang berdiri sejak abad ke-19 itu hingga kini masih kokoh di tengah kawasan dengan bangunan bergaya kolonial.

Tokoh Tionghoa Semarang Utara, David Bok Hansen Soemohardjo, menyebut klenteng tersebut bukan sekadar tempat ibadah, tetapi juga simbol persatuan masyarakat multietnis.

“Klenteng Kam Hok Bio bukan sekadar tempat ibadah, tetapi juga simbol harmoni dan persatuan masyarakat di Kampung Melayu,” ujarnya, Rabu (15/4/2026).

Dalam catatan sejarah, kawasan Kampung Melayu telah lama dihuni warga Arab Hadramaut dan komunitas Tionghoa sejak abad ke-19. Keberadaan warga Tionghoa di kawasan ini tercatat sejak masa Mayor Tan Hong Yan yang menjabat pada 1833–1851.

Pada masa itu, komunitas Tionghoa yang jumlahnya tidak banyak berupaya membangun tempat ibadah. Dipimpin oleh Liem A Gie, mereka mengumpulkan dana untuk membeli lahan dan mendirikan klenteng. Proses tersebut sempat menghadapi penolakan, hingga akhirnya mendapatkan izin resmi dari Gubernur Jenderal Willem Rooseboom di Buitenzorg (Bogor).

Pembangunan Klenteng Kam Hok Bio kemudian rampung pada 1901 dan tetap difungsikan hingga kini.

Selain situs religi, jejak keberagaman juga tampak pada arsitektur bangunan di Kampung Melayu. Perpaduan gaya atap rumah etnis Arab dan Tionghoa menjadi simbol visual harmonisasi budaya yang telah berlangsung lama.

Kini, Kampung Melayu tidak hanya menjadi kawasan bersejarah, tetapi juga ruang hidup yang menunjukkan bahwa perbedaan dapat menjadi kekuatan dalam membangun kehidupan bersama yang damai sekaligus berpotensi sebagai destinasi wisata budaya di Kota Semarang.(msa)

Example 300250
Example 120x600