Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
Berita

Budayawan Dorong Kebangkitan Budaya Nusantara dari Malang, Prof. Wani: Jangan Biarkan Akar Budaya Bangsa Tercabut

×

Budayawan Dorong Kebangkitan Budaya Nusantara dari Malang, Prof. Wani: Jangan Biarkan Akar Budaya Bangsa Tercabut

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

KABUPATEN MALANG — Sejumlah budayawan, akademisi, seniman, dan pegiat budaya dari berbagai daerah berkumpul dalam Sarasehan Kebudayaan Nusantara yang digelar di Pendopo Kampus Universitas Tribhuwana Tunggadewi (UNITRI), Kabupaten Malang, Sabtu (25/7/2026). Pertemuan tersebut menjadi ruang bertukar gagasan sekaligus menyusun langkah konkret dalam menghadapi tantangan pelestarian budaya Nusantara di tengah derasnya arus globalisasi.

Prof. Ir. Wani Hadi Utomo, Ph.D., mengatakan gagasan penyelenggaraan sarasehan lahir dari kegelisahan para budayawan yang melihat semakin memudarnya perhatian masyarakat terhadap budaya Nusantara.

“Saya punya banyak teman budayawan yang ingin melihat budaya Nusantara tidak semakin terlupakan. Karena itu kami ingin berkumpul, menghimpun ide dan usulan dari berbagai kalangan. Awalnya kami memperkirakan pesertanya hanya dari Jawa Timur, tetapi ternyata banyak juga budayawan dari Jawa Tengah yang ingin bergabung,” ujarnya.

Menurut Prof. Wani, forum tersebut bukan sekadar diskusi, melainkan menjadi awal penyusunan langkah bersama dalam menjaga keberlangsungan budaya bangsa. Ia mengapresiasi materi yang disampaikan para narasumber, termasuk pemaparan mengenai peta jalan (road map) pelestarian budaya yang dinilai dapat menjadi dasar gerakan bersama.

“Road map sudah ada, gagasan sudah disampaikan. Sekarang tantangannya adalah bagaimana kita melaksanakan apa yang telah dirumuskan dalam sarasehan budaya ini. Kita harus mendorong generasi muda agar mau terlibat dan mencintai budayanya sendiri,” katanya.

Ia menegaskan bahwa pelestarian budaya tidak cukup dilakukan melalui simbol atau seremoni, tetapi membutuhkan implementasi nyata yang melibatkan masyarakat, dunia pendidikan, komunitas budaya, dan pemerintah.

Menjawab pertanyaan mengenai harapannya bagi generasi muda di tengah mulai pudarnya budaya Nusantara, Prof. Wani mengingatkan pentingnya menjaga identitas bangsa.

“Kalau kita ingat, ada ungkapan bahwa untuk menghancurkan suatu bangsa, cabutlah akar budayanya. Itulah yang harus kita hadapi. Namun bukan dengan melawan secara frontal, melainkan dengan membimbing generasi muda agar memahami kembali nilai-nilai budaya Nusantara dan menjadikannya bagian dari kehidupan mereka,” tuturnya.

Baca Juga :  Pemda dan Masyarakat Aceh Singkil ucapkan Terima Kasih kepada Presiden RI atas Kembalinya Empat Pulau ke Aceh

Pesan tersebut menjadi salah satu benang merah dalam sarasehan, yakni bahwa budaya bukan hanya warisan masa lalu, melainkan fondasi pembentukan karakter bangsa. Para peserta juga mendorong lahirnya kolaborasi lintas daerah untuk memperkuat pendidikan budaya, dokumentasi warisan tradisi, serta pemberdayaan komunitas seni sebagai upaya menjaga keberlanjutan budaya Nusantara di masa depan.

Sementara itu, salah seorang narasumber sekaligus penggiat budaya, Soetanto, menyampaikan apresiasinya atas terselenggaranya sarasehan yang dinilai mampu mempertemukan berbagai pemangku kepentingan dalam satu forum dialog.

“Kami sebagai penggiat budaya sangat mengapresiasi adanya kegiatan sarasehan ini. Dari hasil sarasehan nantinya diharapkan lahir sebuah kesepakatan tentang bagaimana mengolah, mewariskan, dan mengembangkan kebudayaan Nusantara sehingga tidak lekang oleh waktu,” ujarnya.

Menurut Soetanto, hasil pembahasan dalam forum tidak seharusnya berhenti sebagai dokumen atau rekomendasi semata. Ia berharap seluruh rumusan yang dihasilkan dapat diterapkan secara konsisten dan menjadi pedoman dalam upaya pelestarian budaya di berbagai daerah.

“Rekomendasi yang dihasilkan harus dapat dijalankan dengan baik dan benar, sehingga mampu mewariskan nilai-nilai budaya Nusantara kepada generasi selanjutnya. Budaya harus menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, bukan sekadar dikenang sebagai warisan masa lalu,” katanya.

Sarasehan tersebut juga menjadi ajang memperkuat jejaring antarkomunitas budaya lintas daerah. Para peserta sepakat bahwa pelestarian budaya membutuhkan kolaborasi berkelanjutan antara perguruan tinggi, pemerintah, komunitas budaya, pelaku seni, dan masyarakat luas agar kekayaan budaya Nusantara tetap hidup, berkembang, serta relevan bagi generasi masa depan.(msa)

Example 300250
Example 120x600