Example floating
Example floating
Seni Budaya

Hadirkan Henri Nurcahyo, Prodi Psikologi Umsida Gelar Sarasehan Pelestarian Budaya Panji di Era AI

×

Hadirkan Henri Nurcahyo, Prodi Psikologi Umsida Gelar Sarasehan Pelestarian Budaya Panji di Era AI

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

SIDOARJO – Program Studi Psikologi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) menyelenggarakan sarasehan dan pameran poster bertajuk “Merawat Identitas Lokal di Era Digital dan Kecerdasan Artifisial (AI)”. Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu (25/7/2026) di Kampus 2 Candi ini menghadirkan budayawan Henri Nurcahyo dan akademisi Dr. (Cand) Hazim sebagai narasumber utama.

Acara ini bertujuan menumbuhkan kesadaran bagi dosen dan mahasiswa akan pentingnya menjaga identitas budaya lokal di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital dan kecerdasan artifisial.

Ketua Panitia, M. Deffaldo F.W. atau Aldo, dalam sambutannya menyatakan bahwa seminar ini dirancang bukan hanya sebagai wadah berbagi ilmu, tetapi juga ruang bagi mahasiswa untuk menampilkan inovasi pemikiran mereka.

“Seminar ini menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menunjukkan hasil pemikiran dan inovasi mereka dalam mengangkat budaya lokal agar tetap relevan di era digital,” ujar Aldo.

Sementara itu, Dr. (Cand) Hazim, dosen Psikologi Umsida yang sedang menyelesaikan studi S3 di University of Hamburg, Jerman, mengajak peserta untuk memandang kemajuan teknologi sebagai peluang, bukan ancaman. Menurutnya, teknologi dapat menjadi alat strategis untuk melestarikan nilai-nilai lokal.

Baca Juga :  Mahasiswa Umsida Juara 1 Sayembara Gurit Jawatimuran 2025

Dalam sesi materi, Henri Nurcahyo menekankan relevansi Budaya Panji yang memiliki nilai sejarah, moral, dan filosofi tinggi. Ia menjelaskan bahwa kisah Panji, yang erat kaitannya dengan awal peradaban di Sidoarjo, harus terus dikembangkan oleh generasi muda melalui adaptasi media digital.

“Generasi muda Sidoarjo harus tahu dan mengembangkannya karena cerita Panji sangat erat dengan awal mula peradaban di Sidoarjo,” kata Henri.

Hazim melengkapi paparan tersebut dengan membahas keterkaitan budaya lokal dengan teknologi dan AI. Ia menyoroti bagaimana era digital memberikan cara baru bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk merawat rasa memiliki (belonging) dan kebanggaan terhadap identitas budayanya. Hazim juga menyentuh isu repatriasi atau pengembalian warisan budaya dari Belanda ke Indonesia sebagai bagian dari upaya pelestarian identitas nasional.

Baca Juga :  Mahasiswa UGM Guncang Stigma Wayang Kuno di Kota Lama Semarang, “The Other Side of Rahwana” Tawarkan Perspektif Baru

Rangkaian acara dilanjutkan dengan presentasi karya mahasiswa yang dibagi dalam empat sesi. Mahasiswa memaparkan gagasan pelestarian budaya melalui pendekatan kreatif berbasis teknologi, yang kemudian mendapat evaluasi langsung dari para dosen.

Puncak acara ditandai dengan pengumuman pemenang kategori Poster Terbaik dan Presentasi Terbaik. Para pemenang tidak hanya menerima penghargaan, tetapi juga mendapatkan kesempatan menerbitkan karya ilmiah mereka di jurnal bereputasi SINTA 2, SINTA 3, atau SINTA 4.

Juara I diraih oleh Kelompok 2 Kelas 2 A1 dengan tema “Kampung Lali Gadget”. Disusul Juara II oleh Kelompok 5 Kelas 2 A2 dengan tema “Batik Jetis”, dan Juara III oleh Kelompok 3 Kelas 2 B1 dengan tema “Ludruk: Luntas”.

Kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama narasumber, dosen, panitia, dan peserta. Melalui kegiatan ini, Prodi Psikologi Umsida berharap mahasiswa semakin terdorong untuk melestarikan budaya lokal secara kreatif di tengah arus digitalisasi, sehingga identitas budaya Indonesia tetap terjaga dan berkembang. (msa)

Example 120x600
error: Content is protected !!