Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
Seni Budaya

Gong Ditabuh, Generasi Bersatu: Rahayu Respati Laras Menyalakan kembali Api Kebudayaan di Sidoarjo

×

Gong Ditabuh, Generasi Bersatu: Rahayu Respati Laras Menyalakan kembali Api Kebudayaan di Sidoarjo

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

SIDOARJO — Gong itu akhirnya ditabuh. Bukan sekadar untuk menandai berakhirnya sebuah gending, melainkan seperti menandai lahirnya sebuah perjalanan baru. Dari ruang gamelan Dewan Kesenian Sidoarjo, suara demung, saron, bonang dan kendang berpadu. Nada demi nada menyusup ke ruang aula. Suaranya mungkin sederhana, tetapi pesan yang dibawanya jauh lebih besar bahwa kebudayaan tidak boleh berhenti hanya karena zaman berubah.

Pada Minggu, 9 Agustus 2026, Paguyuban Seni Budaya dan Karawitan Rahayu Respati Laras resmi diperkenalkan dan diresmikan. Nama itu lahir dari hampir dua bulan latihan. Namun yang sedang dibangun bukan sekadar kelompok karawitan. Rahayu Respati Laras sedang mencoba membangun jembatan antar generasi. Anak-anak muda duduk berdampingan dengan mereka yang telah lanjut usia. Tangan-tangan muda belajar menabuh gamelan dari pengalaman generasi yang lebih senior. Yang tua memberikan keteladanan. Yang muda membawa energi. Dan semuanya bertemu dalam satu Bahasa yaitu bahasa rasa.

Di tengah suara gamelan itu, ada sosok yang menarik perhatian. Namanya Bagas. Ia masih duduk di kelas 7 salah satu SMP di Kecamatan Taman, Sidoarjo. Usianya masih sangat muda. Tetapi ia sudah mengambil posisi penting sebagai pengendang. Di hadapan seperangkat gamelan, Bagas belajar mengatur irama, tempo dan dinamika permainan. Tangannya yang masih muda belajar berbicara melalui kendang.

Tidak jauh darinya, sang kakak, Titah, juga ikut menjadi bagian dari perjalanan itu. Ia dipercaya sebagai penabuh Bonang Barung. Dua bersaudara. Dua generasi muda. Dua tangan yang sedang belajar memainkan warisan leluhur.

Pemandangan itu seolah menjadi jawaban atas satu pertanyaan besar yang selama ini menghantui kesenian tradisional, Siapa yang akan meneruskan gamelan ketika generasi sekarang sudah tidak ada? Jawabannya mungkin sedang duduk di ruang latihan itu. Mereka adalah anak-anak yang hari ini belajar menabuh.

Kehadiran Rahayu Respati Laras mendapat sambutan positif dari Dewan Kesenian Sidoarjo. Iwan Agung Prasetyo, Divisi Kebudayaan Dewan Kesenian Sidoarjo (Dekesda), menyampaikan apresiasi mewakili Ketua Umum Dekesda. Menurut Iwan, nama Rahayu Respati Laras bukan sekadar rangkaian kata yang terdengar indah.

“Nama Rahayu Respati Laras ini sangat bagus dan pas sekali. Kelihatan auranya, nama itu sudah nampak dan terpancar,” ujar Iwan.

Baginya, nama sebuah komunitas seni merupakan doa, identitas sekaligus ruh yang akan menentukan perjalanan kelompok tersebut.

“Nama itu bukan sekadar nama. Ada ruh dan semangat yang dibawa. Ketika nama itu terasa pas dengan apa yang dilakukan, auranya akan muncul dan menjadi identitas kelompok,” katanya.

Dan nama itu kini mulai menemukan maknanya. Rahayu selamat, sejahtera, damai serta terhindar` dari segala musibah atau kekurangan. Laras indah, cocok, seimbang, selaras, atau nikmat untuk dihayati. Respati gagah perkasa, pantas, atau sesuatu yang menyenangkan dan meresap ke hati yang paling dalam

Penggagas sekaligus pendiri Rahayu Respati Laras, Sri Rahayu, yang akrab dipanggil Ibu Ayu, mengatakan paguyuban tersebut lahir dari keinginannya untuk mempersiapkan masa depan dengan kegiatan yang positif.

“Bismillah. Yang melatarbelakangi pembentukan Rahayu Respati Laras ini adalah saya ingin mempersiapkan diri untuk tiga tahun mendatang. Saya ingin mempersiapkan masa depan saya sendiri dengan kegiatan yang positif, berpikir positif, kemudian langsung action,” terangnya.

Bagi Ibu Ayu, berpikir positif tidak boleh berhenti menjadi slogan. Harus ada tindakan. Harus ada karya. Harus ada manfaat. Dan ia memilih kebudayaan sebagai jalan.

Karawitan menjadi langkah pertamanya. Namun langkah itu kemudian berkembang menjadi sesuatu yang lebih besar. Sebab ketika orang-orang duduk bersama di depan gamelan, mereka bukan hanya belajar musik. Mereka belajar mendengar. Mereka belajar menunggu. Mereka belajar mengendalikan diri. Mereka belajar bahwa kehidupan tidak selalu tentang siapa yang paling keras suaranya.

Dalam gamelan, tidak ada instrumen yang boleh merasa paling penting. Saron memiliki peran. Demung memiliki peran. Bonang memiliki peran. Kendang memiliki peran. Gong memiliki peran. Semuanya berbeda, tetapi semuanya diperlukan. Ketika satu penabuh ingin mendominasi, harmoni akan terganggu. Ketika satu orang tidak mau mendengar, irama akan berantakan. Namun ketika semua mau menempatkan diri, mendengar satu sama lain dan mengikuti aturan bersama, lahirlah keindahan.

Bukankah kehidupan juga demikian? Karawitan mengajarkan bahwa untuk menciptakan harmoni, manusia tidak harus menjadi sama. Manusia hanya perlu belajar saling memahami. Itulah nilai yang ingin dibangun Rahayu Respati Laras.

Baca Juga :  Raden Gani Muhamad Buka Even Diskopukm dengan Dekranasda di Pakuwon Mall Bekasi

Di tengah kekhawatiran bahwa anak-anak muda semakin jauh dari kesenian tradisional, Bagas justru memilih duduk di belakang kendang. Tetapi ia sudah belajar menjadi bagian dari sebuah ansambel. Sementara kakaknya, Titah, berada di belakang Bonang Barung. Keduanya bukan sekadar peserta latihan. Mereka adalah simbol. Simbol bahwa gamelan masih mempunyai tempat di hati generasi muda. Bahwa anak sekolah tidak harus menunggu menjadi dewasa untuk mencintai budaya. Dan bahwa regenerasi tidak harus dimulai dengan pidato panjang.

Regenerasi dimulai ketika seorang anak berani mengambil pemukul gamelan dan berkata: “Saya mau belajar.” Ibu Ayu sengaja membuka Rahayu Respati Laras untuk lintas generasi.

“Di sini kami menggabungkan anak-anak remaja dengan mereka yang sudah lansia. Itu menjadi harmonisasi lintas generasi,” imbuhnya.

Di ruang latihan itu, usia kehilangan batasnya. Yang muda belajar dari yang tua. Yang tua mendapatkan energi dari yang muda. Tidak ada yang terlalu tua untuk belajar. Tidak ada yang terlalu muda untuk berkarya. Semua duduk sejajar di hadapan gamelan. Dan ketika kendang mulai berbunyi, semuanya mengikuti. Bagi Ibu Ayu, karawitan bukan hanya perkara teknik.

“Kita mempersiapkan diri untuk berkiprah secara positif melalui action, melalui menabuh gamelan. Karena menabuh gamelan itu menyatukan rasa,” ujarnya.

Ia percaya bahwa bermain gamelan berarti mengolah rasa sekaligus mengolah pikiran.

“Ketika saya berhadapan dengan gamelan, saya mempersiapkan diri untuk mengolah rasa, mengolah pikir, kemudian mengharmonisasikan antara pemikiran dan solmisasi dari alat yang kita tabuh,” pungkasnya.

Karena itu, kehadiran Suwarmin, S.Sn., sebagai pelatih menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran. Para anggota tidak hanya diajak memukul gamelan, tetapi juga memahami laras, irama, tempo, karakter instrumen dan rasa dalam karawitan.

Rahayu Respati Laras tidak ingin berhenti pada karawitan. Setelah gamelan menjadi fondasi, paguyuban ini berencana mengembangkan sayap ke berbagai bidang seni budaya lainnya. Tembang macapat. Seni tari. Seni vokal dan nyanyian. Serta berbagai bentuk seni budaya lainnya. Dengan demikian, gamelan bukan tujuan akhir. Ia adalah pintu masuk menuju sebuah gerakan kebudayaan yang lebih luas.

Zaman bergerak begitu cepat. Teknologi berkembang. Anak-anak muda hidup dalam dunia digital. Budaya dari berbagai penjuru dunia masuk tanpa batas. Dalam kondisi seperti itu, menjaga kesenian tradisional bukan pekerjaan ringan. Tetapi kebudayaan tidak akan mati selama masih ada manusia yang bersedia mempelajarinya. Dan di Sidoarjo, orang-orang itu mulai berkumpul. Mereka datang. Mereka duduk. Mereka belajar. Mereka menabuh. Mereka mendengarkan. Kemudian mereka menyatu. Rahayu Respati Laras mungkin baru berdiri. Namun semangat yang dibawanya tidak kecil. Ia membawa pesan bahwa kebudayaan bukan benda mati yang disimpan di museum. Kebudayaan harus dimainkan. Harus dinyanyikan. Harus ditarikan. Harus diwariskan. Harus dihidupkan. Dan yang paling penting, harus diberikan kepada generasi berikutnya.

Minggu, 9 Agustus 2026, mungkin hanya satu tanggal dalam kalender. Namun bagi Rahayu Respati Laras, tanggal itu menjadi titik awal. Dari Aula Dewan Kesenian Sidoarjo, sebuah nama resmi dikumandangkan. Dari ruang latihan, sebuah gerakan kecil mulai tumbuh. Dari tangan Bagas di kendang dan Titah di Bonang Barung, sebuah pesan disampaikan bahwa generasi muda masih bisa mencintai warisan leluhur.

Dari para senior, lahir keteladanan. Dari para remaja, muncul harapan. Dari gamelan, lahir perjumpaan. Dan dari perbedaan, lahir harmoni. Karena pada akhirnya, karawitan bukan hanya tentang bagaimana memukul gamelan. Karawitan adalah tentang bagaimana manusia belajar hidup bersama. Tentang bagaimana suara yang berbeda tidak harus saling menenggelamkan. Tentang bagaimana seseorang kadang harus tampil, tetapi pada saat lain harus mengalah. Tentang bagaimana generasi tua dan generasi muda dapat duduk dalam satu lingkaran dan memainkan satu irama.

Sebab harmoni tidak pernah lahir dari suara yang sama. Harmoni lahir dari suara-suara yang berbeda, tetapi memilih untuk saling mendengarkan. Dan kini, dari Sidoarjo, suara itu mulai terdengar lebih jauh. Bukan hanya suara gamelan. Tetapi suara regenerasi. Suara kebersamaan. Suara kebudayaan. Suara masa depan.

Gong telah ditabuh. Generasi telah dipertemukan. Rahayu respati laras telah memulai langkah. Dan selama masih ada tangan yang bersedia menabuh, hati yang bersedia merasakan, serta generasi muda yang bersedia meneruskan—kebudayaan tidak akan pernah mati. Dari Sidoarjo, harmoni itu kini mulai dikumandangkan.(msa)

Example 120x600