SEMARANG – Perayaan Sejit Kongco Kwan Sing Tee Koen ke-1.866 di Klenteng Hoo Hok Bio, Semarang pada hari Sabtu (08/8/2026), tidak sekadar menjadi ritual keagamaan. Ditengah perubahan zaman dan semakin beragamnya kehidupan masyarakat perkotaan, perayaan tersebut justru menjadi ruang perjumpaan—tempat umat, tokoh lintas daerah, dan generasi muda kembali diingatkan bahwa tradisi dapat bertahan ketika dirawat bersama.
Perayaan yang berlangsung Sabtu 8/8/2026 malam menuju Minggu itu dihadiri umat dan tamu undangan dari berbagai daerah, antara lain Jakarta, Tangerang, Jawa Timur, serta sejumlah wilayah lain di luar Kota Semarang.
Sekretaris Klenteng Hoo Hok Bio, Po Ivan Gunawan, mengatakan Sejit Kongco Kwan Sing Tee Koen ke-1.866 secara penanggalan sebenarnya jatuh pada Rabu malam Kamis. Namun, pelaksanaan perayaan bersama digeser menjadi Sabtu malam agar lebih banyak umat dan tamu dari berbagai daerah dapat hadir.
“Pada dasarnya Sejit Kongco Kwan Sing Tee Koen ke-1.866 jatuh pada Rabu malam Kamis. Namun, perayaannya kami laksanakan Sabtu malam karena lebih memungkinkan untuk mengundang umat dan tamu dari berbagai kota,” ujar Ivan.
Menurut dia, Hoo Hok Bio merupakan salah satu klenteng tertua di Semarang. Keberadaannya tidak hanya dipertahankan sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai ruang kebersamaan dan harmoni.
“Kami merangkul semua organisasi. Harapannya, klenteng ini bisa langgeng sampai seterusnya, tetap eksis dan jaya, serta menjadi teladan bagi umat,” katanya.
Ia berharap Hoo Hok Bio terus menjadi tempat yang khusyuk bagi umat untuk bersembahyang sekaligus menjadi ruang berkumpul dan membangun suasana harmonis.
“Semoga umat bisa datang ke sini untuk bersembahyang, berkumpul bersama, dan menciptakan suasana harmoni yang baik,” ujar Ivan.
Go Tjong Ping, Ketua Terpilih Umat Klenteng Kwan Sing Bio, Tuban, Jawa Timur, sengaja datang bersama rombongan untuk menghadiri perayaan di Hoo Hok Bio.
Menurutnya, kunjungan tersebut merupakan bagian dari semangat saling mengunjungi antar klenteng dan umat.
“Kalau di Tuban ada acara, teman-teman dari Semarang dan daerah lain datang. Sekarang gantian kami datang ke sini,” ujarnya.
Go Tjong Ping mengaku terkesan dengan kemampuan Hoo Hok Bio mempertahankan kehidupan keagamaan dan kebersamaan meski berada di lingkungan yang relatif sederhana.
“Terus terang saya sangat terkesan. Klentengnya berada di lingkungan kampung, tetapi mampu mengadakan kegiatan seperti ini. Panggungnya mungkin sederhana, tetapi semangatnya luar biasa,” katanya.
Baginya, kekuatan sebuah klenteng tidak semata-mata ditentukan oleh besar kecilnya bangunan. Yang lebih penting adalah kemampuan membangun umat, menjaga tradisi, dan menciptakan ruang kebersamaan.
Ia menyebut sejumlah daerah di Jawa Timur juga memiliki komunitas dan klenteng yang terus berupaya mempertahankan tradisi.
Namun, menurut dia, apa yang dilakukan Hoo Hok Bio menunjukkan bahwa keterbatasan tidak selalu menjadi penghalang untuk berkarya.
Di balik kemeriahan perayaan, ada pertanyaan yang jauh lebih besar: siapa yang akan meneruskan tradisi ini ketika generasi sekarang mulai menua?
Go Tjong Ping menilai regenerasi menjadi tantangan penting bagi komunitas keagamaan dan budaya.
“Generasi muda harus mulai dirangkul. Mereka harus dibuat nyaman untuk terlibat,” ujarnya.
Pendekatan kepada generasi muda, menurut dia, tidak harus selalu dilakukan melalui kegiatan ritual.
Berbagai aktivitas sosial dapat menjadi pintu masuk, seperti arisan, olahraga, kegiatan memasak, hingga kunjungan bersama ke klenteng-klenteng di berbagai daerah.
“Yang penting mereka ikut dulu, merasa nyaman, kemudian pelan-pelan tumbuh rasa memiliki. Saya sendiri sering mengajak keluarga dan anak-anak pergi bersama dalam kegiatan seperti ini,” katanya.
Baginya, mempertahankan tradisi bukan berarti memaksa anak muda untuk hidup dalam masa lalu. Justru tradisi harus mampu hadir dalam kehidupan mereka sekarang.
Perayaan Sejit juga memiliki cerita tersendiri di balik orang-orang yang dipercaya melayani Kongco. Feryanto Harsoyo, SE, atau yang dikenal sebagai Cia Lo Cu terpilih, dipercaya untuk bertugas melayani Kongco dalam periode 2026–2027.
Penetapan tersebut berlangsung melalui sebuah proses ritual yang melibatkan tiga kandidat.
Menurut Feryanto, dalam proses tersebut digunakan dua buah kayu untuk menentukan hasil. Kedua benda tersebut dilempar dalam sebuah ritual. Kondisi terbuka dan tertutup memiliki makna tertentu dalam proses tersebut.
Dari tiga kandidat, dua orang memperoleh hasil yang sama, sedangkan Feryanto mendapatkan hasil berupa satu sisi terbuka dan satu sisi tertutup.
Hasil tersebut kemudian dimaknai sebagai pilihan Kongco.
“Saya yang kandidat ketiga mendapatkan hasil buka dan tutup. Kemudian saya dipilih Kongco untuk melayani beliau selama periode 2026 sampai 2027,” jelasnya.
Tugas tersebut bukan sekadar sebuah jabatan. Feryanto memaknainya sebagai kesempatan untuk mengabdi.
“Saya merasa bahagia karena bisa melayani Kongco. Semoga rezeki tetap melimpah dan diberi keberkahan,” katanya.
Ia menyadari tanggung jawab tersebut tidak ringan. Namun, ia siap menjalankannya selama masih dipercaya.
“Kalau Kongco berkenan saya meneruskan, akan saya teruskan. Kalau tidak berkenan, mungkin nanti akan diganti dengan orang lain,” imbuhnya.
Tradisi yang Tidak Boleh Berhenti pada Seremoni saja. Maka perayaan Sejit Kongco Kwan Sing Tee Koen ke-1.866 akhirnya memperlihatkan wajah lain dari sebuah tradisi.
Ia bukan hanya tentang dupa yang mengepul, doa yang dipanjatkan, atau ritual yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Ia juga tentang manusia yang datang dari berbagai kota, duduk bersama, saling mengunjungi, dan menjaga hubungan persaudaraan.
Hoo Hok Bio menunjukkan bahwa usia panjang sebuah tradisi bukan semata-mata karena ia berhasil mempertahankan bentuk masa lalunya.
Tradisi akan tetap hidup apabila mampu menemukan makna baru bagi generasi berikutnya.
Di tengah masyarakat yang semakin majemuk, klenteng juga dapat menjadi ruang kebudayaan—tempat nilai-nilai kebersamaan, penghormatan kepada leluhur, spiritualitas, dan persaudaraan bertemu.
Dari sebuah klenteng yang berada di lingkungan kampung, pesan itu justru terdengar kuat bahwa besar kecilnya sebuah tempat ibadah tidak menentukan besar kecilnya semangat untuk menjaga persaudaraan.
Dan selama masih ada generasi yang mau datang, bersembahyang, berkumpul, belajar, serta meneruskan pengabdian, tradisi itu belum selesai.
Ia masih hidup.
Ia masih diwariskan.(msa)



























