DEMAK – Ikatan Paritrana Indonesia (IPI) menggelar kegiatan sosial dan spiritual di Desa Banyumeneng, Kecamatan Mranggen, Kabupaten Demak, Senin (11/05/2026). Kegiatan tersebut dipimpin langsung oleh Ketua IPI, Ki Rohmad Mijil Laras, bersama puluhan anggota tim terapi dan pengajian.
Menurut Ki Rohmad, kegiatan dilakukan sebagai bentuk kepedulian terhadap warga yang membutuhkan pendampingan spiritual maupun kesehatan tradisional. Ia menyebut, tim IPI datang setelah menerima permintaan dari masyarakat setempat terkait kondisi salah satu warga yang sering sakit serta suasana lingkungan yang dianggap kurang nyaman oleh warga sekitar.
“Kami datang untuk membantu masyarakat melalui doa bersama, pengajian, ruqyah, tawasulan, dan istigasah agar warga merasa lebih tenang dan nyaman,” ujar Ki Rohmad di sela kegiatan.
Sekitar 50 anggota IPI turut terlibat dalam kegiatan tersebut. Setelah rangkaian doa dan pengajian selesai, kegiatan dilanjutkan dengan terapi kesehatan tradisional dan sesi konsultasi terbuka bagi warga.
Bertempat di sebuah gedung pertemuan warga, masyarakat tampak antusias mengikuti terapi maupun berkonsultasi mengenai berbagai keluhan kesehatan. Sejumlah layanan terapi tradisional diberikan secara langsung kepada warga yang hadir.
Ki Rohmad mengatakan, IPI membuka layanan konsultasi, terapi, dan ruqyah untuk masyarakat umum selama 24 jam apabila dibutuhkan. Menurutnya, kegiatan sosial semacam itu tidak hanya dilakukan di Semarang dan sekitarnya, tetapi juga di berbagai daerah lain.
“Kami siap membantu masyarakat di mana pun berada. Prinsip kami adalah hadir untuk kemanfaatan sosial, kesehatan tradisional, dan pendampingan spiritual,” katanya.
Selain kegiatan bakti sosial, IPI juga aktif mengadakan pelatihan terapi tradisional bagi masyarakat. Pelatihan tersebut meliputi pijat tradisional Jawa, gurah, bekam, hingga terapi berbasis doa-doa berbahasa Jawa.
IPI juga membuka kesempatan bagi masyarakat dari berbagai usia untuk bergabung sebagai anggota maupun peserta pelatihan. Organisasi tersebut berharap keterampilan terapi tradisional dan budaya Jawa tetap lestari serta dapat dikembangkan secara positif di tengah masyarakat.
“Kami ingin budaya pengobatan tradisional Jawa tetap hidup dan bisa menjadi sarana membantu sesama,” pungkas Ki Rohmad.(msa)



























