Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
Kilas Info

Seru-seruan Penutupan Gelar Budaya “Perempuan, Demokrasi dan Kebudayaan” di Semarang

×

Seru-seruan Penutupan Gelar Budaya “Perempuan, Demokrasi dan Kebudayaan” di Semarang

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

SEMARANG — Penutupan Gelar Budaya bertema “Perempuan, Demokrasi dan Kebudayaan” di Kota Semarang berlangsung hangat dan penuh refleksi, Minggu (10/05/2026). Acara yang dikemas santai namun sarat makna itu menghadirkan pameran seni, diskusi budaya, hingga ruang berbagi gagasan tentang perempuan, sejarah, dan demokrasi.

Kegiatan tersebut diikuti berbagai komunitas kesenian serta organisasi perempuan seperti Koalisi Perempuan Indonesia, Perempuan Berkebaya Indonesia, dan sejumlah pegiat budaya lainnya.
Seniman sekaligus budayawan Suhartono atau yang akrab disapa Cak Hartono mengatakan perempuan selalu menjadi tema yang menarik sekaligus kompleks untuk dibahas dalam perjalanan sejarah manusia.

“Perempuan sebagai ibu itu jelas menjadi keberlangsungan kehidupan. Kemudian perempuan juga menjadi simbol yang sangat panjang diperdebatkan dalam sejarah dan kebudayaan,” ujar Cak Hartono saat diwawancarai awak media.

Baca Juga :  APMISO Bergelora di Senayan Jakarta, Turut Hadir Rayakan HUT KSPSI ke-52

Dalam pameran tersebut, Cak Hartono menghadirkan sejumlah figur perempuan yang dianggap memiliki makna simbolik dan historis, mulai dari Dewi Kunti, R.A. Kartini, Marsinah, Megawati Soekarnoputri, hingga Sinta Nuriyah Wahid.

Menurutnya, perempuan tidak akan pernah selesai untuk ditulis maupun dilukis karena selalu memiliki ruang penting dalam dinamika sosial, budaya, hingga politik.

Ia juga menyinggung berbagai peristiwa sejarah yang berkaitan dengan perempuan, mulai dari tragedi 1965 hingga peristiwa Mei 1998 yang hingga kini masih menjadi perdebatan publik.

Baca Juga :  Potensi Sumber Daya Alam yang Melimpah, Kampung Teluk Semanting bisa tingkatkan Ekonomi Warga

“Sejarah itu tidak bisa dihapus. Data akan selalu muncul kembali meskipun ditutup. Persoalannya adalah bagaimana kita merespons sejarah itu menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi generasi
berikutnya,” katanya.

Menurut Cak Hartono, sejarah bukan hanya tentang peristiwa besar, tetapi juga realitas kehidupan sehari-hari yang menjadi bagian dari proses peradaban manusia.

Ia mengaku tengah mempersiapkan pameran lanjutan bertema “Jas Merah” yang akan merekam perjalanan masa lalu, realitas masa kini, serta harapan masa depan untuk generasi mendatang.

“Kita ingin generasi muda tetap memiliki harapan dan nilai-nilai yang bermanfaat untuk kehidupan ke depan,” ujarnya.

Baca Juga :  HUT SPSI ke 52 dan Harpekindo Tingkatkan Tenaga Kerja Perindusrian Terdepan

Sementara itu, Kelana Siwi mengatakan gelar budaya tersebut sengaja dibuat lebih cair dan tidak sekadar seremonial peringatan Hari Kartini.

“Kami ingin menyuarakan suara-suara perempuan, mulai dari peristiwa 1965 hingga 1998. Banyak pengalaman perempuan Indonesia yang tidak boleh dilupakan begitu saja,” kata Kelana Siwi.

Menurutnya, kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari rangkaian menuju Kongres Perempuan yang direncanakan berlangsung pada November 2026 mendatang.

Selain pameran seni dan diskusi budaya, suasana penutupan acara juga diwarnai interaksi santai antar komunitas, pertunjukan seni, dan ruang berbagi pengalaman yang mempererat solidaritas antarpeserta. (msa)

Example 300250
Example 120x600