SEMARANG — Malam di Kelurahan Dadapsari, Jumat (20/3/2026), dipenuhi gema takbir yang mengalun pelan, seolah menenangkan riuh kehidupan. Di antara cahaya lampu dan langkah warga, takbiran bukan sekadar perayaan, melainkan ruang untuk mengingat: tentang kebersamaan yang dijaga, tentang perbedaan yang dipeluk tanpa syarat.
Tradisi tahunan ini kembali digelar dalam bentuk lomba antar-RW, dari RW 1 hingga RW 10. Warga hadir membawa kreativitas, namun lebih dari itu, mereka membawa rasa memiliki yang sama terhadap kampung halaman. Di Dadapsari, perayaan menjadi milik bersama.
Lurah Dadapsari, Hesti Karyani, menuturkan bahwa takbiran telah lama menjadi denyut kehidupan warga. “Ini bukan hanya kemeriahan, tetapi juga cara kami menjaga silaturahmi dan kebersamaan,” ujarnya.
Kegiatan yang diprakarsai Forum RW serta didukung berbagai pihak itu terus dirawat, seperti menjaga api kecil agar tetap menyala di tengah perubahan zaman.
Di tempat ini, perbedaan keyakinan tidak pernah menjadi jarak. Mayoritas warga memang Muslim, namun sebagian lainnya beragama Nasrani. Mereka hidup berdampingan dalam keseharian yang sederhana: saling menyapa, saling menjaga. Toleransi tumbuh bukan dari wacana, melainkan dari kebiasaan yang diwariskan.
Camat Semarang Utara, Siwi Wahyuningsih, melihat lebih dari sekadar tradisi. Ia menyebut takbiran Dadapsari sebagai cermin sinergi—antara warga, pelaku seni, dan generasi muda. “Ada religiusitas, ada budaya, ada kebersamaan. Ini kekuatan yang tidak selalu tampak, tetapi terasa,” katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa perayaan agama, dalam waktu yang mungkin berdekatan, tidak seharusnya menjadi sekat. Justru di situlah kesempatan untuk saling memahami. Di Dadapsari, kebersamaan itu tumbuh alami—tanpa banyak kata, tanpa perlu dipertentangkan.
Peran generasi muda, terutama karang taruna, turut menjaga denyut tradisi ini. Mereka hadir, ikut “nyengkuyung”, memastikan bahwa yang lama tidak hilang, dan yang baru tetap berakar.
Di kota yang dikenal sebagai salah satu kota paling toleran di Indonesia, Dadapsari adalah potret kecilnya. Sebuah ruang di mana Bhinneka Tunggal Ika tidak hanya diucapkan, tetapi dijalani. Di mana perbedaan tidak memecah, melainkan menguatkan.
Malam itu, takbir terus bergema. Tidak hanya sebagai penanda kemenangan setelah sebulan berpuasa, tetapi juga sebagai pengingat yang lirih: bahwa kebersamaan adalah hal yang paling perlu dijaga, bahkan ketika dunia terus berubah. (msa)



























