SEMARANG – Suasana Klenteng Tay Kak Sie di Jalan Lombok, Semarang, tampak lebih semarak dari biasanya pada Sabtu (14/3/2026). Aroma dupa yang mengepul dari altar bercampur dengan tawa anak-anak yang mengenakan kostum dewa dan dewi. Hari ini, ratusan umat berkumpul untuk memperingati Sejit Kongco Chay Shen Ya, dewa rezeki yang dihormati dalam tradisi Tionghoa.
Perayaan tidak hanya diisi dengan ritual sembahyang, tetapi juga berbagai kegiatan budaya yang menghadirkan kehangatan kebersamaan. Dari lomba cosplay untuk anak-anak hingga undian pohon rezeki, semua menjadi bagian dari upaya menjaga tradisi tetap hidup di tengah zaman yang terus berubah.
Sejak siang hari, halaman klenteng mulai dipenuhi keluarga yang datang dari berbagai daerah. Anak-anak tampil mengenakan kostum warna-warni menyerupai tokoh-tokoh dewa dan dewi yang dipuja di Klenteng Tay Kak Sie. Mereka mengikuti lomba cosplay dewa-dewi yang diperuntukkan bagi peserta berusia di bawah 15 tahun.
Di antara mereka, ada yang mengenakan jubah merah menyala dengan mahkota emas, ada pula yang membawa atribut khas tokoh dewa yang mereka perankan. Orang tua dan pengunjung yang hadir tak henti mengabadikan momen tersebut.
“Acara pertama hari ini adalah lomba cosplay untuk anak-anak di bawah 15 tahun. Cosplay ini khusus menampilkan dewa dan dewi yang ada di Klenteng Tay Kak Sie,” ujar Budi Nur, Wakil Ketua Yayasan Klenteng Tay Kak Sie.
Menjelang petang, suasana perlahan berubah menjadi lebih khidmat. Sekitar pukul 18.00 WIB, umat berkumpul di ruang utama klenteng untuk mengikuti sembahyang bersama memperingati Sejit Kongco Chay Shen Ya.
Lampion-lampion merah menggantung di langit-langit klenteng, sementara deretan lilin dan dupa menyala di altar. Umat berdiri berbaris dengan tangan terkatup, memanjatkan doa-doa memohon berkah rezeki, keselamatan, dan kesehatan.
Usai sembahyang, suasana kembali meriah. Alunan musik mengisi halaman klenteng, sementara umat dan pengunjung berkumpul menikmati makan bersama. Tak lama kemudian, sosok yang mengenakan busana menyerupai Kongco Chay Shen Ya muncul di tengah kerumunan.
Kehadirannya langsung disambut antusias, terutama oleh anak-anak yang berbaris menanti pembagian angpao. Senyum dan tawa pun pecah ketika satu per satu angpao diberikan kepada mereka.
Namun, puncak kemeriahan malam ini datang melalui sebuah tradisi yang dinanti banyak orang: undian pohon rezeki.
Sebuah pohon hias dipenuhi angpao yang tergantung di setiap rantingnya. Setiap pengunjung yang hadir diminta menuliskan nama mereka untuk dimasukkan ke dalam undian.
“Nanti nama-nama yang sudah ditulis akan kita undi. Jika namanya keluar, mereka bisa mengambil angpao dari pohon rezeki. Isinya apa menjadi kejutan yang sudah kami siapkan,” kata Budi.
Bagi pengurus klenteng, perayaan seperti ini bukan sekadar acara tahunan, melainkan bagian dari upaya menjaga warisan budaya agar tetap hidup di tengah masyarakat.
Setiap perayaan Sejit bagi para dewa dan dewi di klenteng, menurut Budi, selalu dirayakan dengan konsep yang berbeda. Ide kegiatan biasanya muncul dari Tjia dan Hu Lo Cu, yang terlibat dalam pengelolaan kegiatan keagamaan di klenteng.
“Setiap ada dewa atau dewi yang Sejit, kami pasti mengadakan acara. Bentuk acaranya selalu bervariasi tergantung dari inisiatif Tjia dan Hu Lo Cu,” ujarnya.
Yang menarik, perayaan ini terbuka untuk umum. Tidak hanya umat klenteng, masyarakat dari berbagai latar belakang bahkan dari luar daerah pun datang untuk ikut merasakan suasana perayaan.
Bagi pengurus klenteng, keterbukaan ini menjadi salah satu cara untuk memperkenalkan budaya sekaligus menjaga keberlangsungan tradisi.
“Tantangan kita adalah bagaimana melestarikan budaya dan kearifan yang ada. Karena itu kami membuat kegiatan seperti lomba cosplay dan acara lainnya agar masyarakat, terutama generasi muda, tertarik untuk datang ke klenteng,” kata Budi.
Ia juga mengajak anak-anak muda untuk tidak ragu mendekatkan diri pada kegiatan spiritual dan budaya di klenteng.
“Kami berharap generasi muda mau datang, bergabung dalam kegiatan ibadah, konsultasi sembahyang, dan sembahyang bersama agar mendapatkan keselamatan, kesehatan, kesuksesan, dan kebahagiaan,” pungkas Budi
Di tengah lampion yang menyala dan doa-doa yang dipanjatkan, perayaan Sejit Kongco Chay Shen Ya di Klenteng Tay Kak Sie bukan sekadar ritual keagamaan. Ia menjadi ruang pertemuan lintas generasi – tempat tradisi diwariskan, kebersamaan dirayakan, dan harapan tentang masa depan terus dipanjatkan.
Bagi para umat yang hadir malam itu, setiap dupa yang dibakar dan setiap angpao yang dibagikan menyimpan satu doa yang sama: semoga rezeki, kedamaian, dan keberkahan selalu menyertai kehidupan. (msa)



























