Example floating
Example floating
Religi

Asadha dan Pari Corek Wajah Sang Buddha, Rawat Kerukunan Lewat Kolaborasi Lintas Agama

×

Asadha dan Pari Corek Wajah Sang Buddha, Rawat Kerukunan Lewat Kolaborasi Lintas Agama

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

KABUPATEN SEMARANG — Perayaan Asadha 2026 di Kabupaten Semarang berlangsung penuh makna. Bukan sekadar menjadi momentum spiritual bagi umat Buddha, kegiatan yang digelar pada Selasa (25/8/2026) di Lodji Londo Cafe, Kabupaten Semarang, juga menjadi panggung kebersamaan lintas agama melalui launching Pari Corek Wajah Sang Buddha.

Hadir dalam kegiatan tersebut Bupati Semarang, Direktur Jenderal Bimas Buddha Kementerian Agama RI, Ketua WALUBI Jawa Tengah, Permabudhi Jawa Tengah, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Semarang, Kepala KUA Kecamatan Bergas, Penyuluh Agama Hindu Kabupaten Semarang, tokoh agama Buddha Rama Pujianto, serta sejumlah tokoh masyarakat.

Perayaan Asadha menjadi kesempatan bagi umat Buddha untuk kembali menghayati nilai-nilai luhur ajaran Sang Buddha, terutama tentang kebajikan, kasih sayang, kedamaian, kepedulian, dan pelayanan kepada sesama.

Namun, ada hal yang membuat perayaan kali ini terasa istimewa. Semangat Asadha tidak berhenti pada kegiatan internal umat, tetapi diterjemahkan dalam bentuk kolaborasi nyata lintas agama.

Penyuluh Agama Hindu Kabupaten Semarang turut hadir sekaligus terlibat dalam kepanitiaan. Kehadiran tersebut menjadi gambaran bahwa keberagaman tidak harus melahirkan jarak. Sebaliknya, perbedaan keyakinan dapat menjadi kekuatan ketika setiap pihak bersedia membuka ruang komunikasi, saling menghormati, dan bekerja bersama.

Baca Juga :  Wujud Penghargaan Pengabdian, Panglima TNI Berangkatkan Umroh Ratusan Prajurit dan ASN TNI

Tokoh agama Buddha, Rama Pujianto, menyampaikan bahwa kolaborasi menjadi bagian penting dalam memperluas manfaat pelayanan kepada masyarakat.

“Kita saling berkolaborasi, saling mendukung dan membantu dalam melayani umat, sehingga makin banyak umat yang terlayani,” ungkapnya.

Pesan tersebut menjadi salah satu ruh utama kegiatan. Pelayanan kepada masyarakat tidak semestinya dibatasi oleh latar belakang agama maupun kelompok. Ketika kepedulian ditempatkan di atas kepentingan pribadi dan kelompok, perbedaan justru dapat menjadi energi positif untuk menghadirkan manfaat yang lebih luas.

Keterlibatan Penyuluh Agama Hindu dalam kegiatan umat Buddha juga memperlihatkan bahwa moderasi beragama bukan sekadar slogan, melainkan dapat diwujudkan melalui tindakan sederhana yang nyata.

Saling hadir ketika umat lain menggelar kegiatan, saling membantu dalam kepanitiaan, membangun komunikasi, dan bekerja bersama merupakan bentuk kerukunan yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

Di tengah kehidupan sosial yang semakin beragam, praktik semacam ini memiliki arti penting. Kerukunan tidak cukup hanya dibicarakan dalam forum-forum resmi, tetapi perlu dibangun melalui perjumpaan dan pengalaman bersama.

Kabupaten Semarang pun memiliki modal sosial yang kuat untuk terus mengembangkan kehidupan masyarakat yang harmonis. Tokoh agama, pemerintah, penyuluh agama, organisasi keagamaan, dan masyarakat dapat mengambil peran masing-masing untuk menjaga suasana damai sekaligus memperkuat persaudaraan.

Baca Juga :  Polres Pelabuhan Belawan Peringati Idul Adha dengan Thema : Meningkatkan Keimanan dan Ketaqwaan serta Kepedulian Sosial

Launching Pari Corek Wajah Sang Buddha dalam rangkaian Perayaan Asadha semakin memperkuat pesan tentang pentingnya mengenalkan nilai-nilai kebajikan kepada masyarakat.

Kehadiran kegiatan tersebut diharapkan tidak hanya menjadi simbol, tetapi juga menjadi sarana untuk menumbuhkan semangat kepedulian, kedamaian, penghormatan terhadap sesama, serta kesadaran bahwa kehidupan bermasyarakat membutuhkan sikap saling menghargai.

Perayaan Asadha akhirnya tidak hanya berbicara tentang hubungan manusia dengan nilai-nilai spiritual, tetapi juga tentang bagaimana nilai tersebut diterjemahkan dalam kehidupan sosial.

Ketika kasih sayang diwujudkan dalam pelayanan, ketika kebajikan diwujudkan dalam kepedulian, dan ketika ajaran kedamaian diwujudkan dalam kerja sama, maka agama hadir sebagai kekuatan yang menyejukkan kehidupan masyarakat.

Momentum di Lodji Londo Cafe tersebut menjadi pengingat bahwa kerukunan dapat tumbuh dari hal-hal sederhana: saling hadir, saling membantu, dan saling menghargai.

Dari Kabupaten Semarang, semangat itu kembali ditegaskan. Berbeda dalam keyakinan, bersatu dalam pelayanan. Beragam dalam kehidupan, bersama merawat kerukunan.(msa)

Example 120x600
error: Content is protected !!