Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
Seni Budaya

Haul Ki Ageng Pandanaran Diisi Pagelaran Wayang Kulit, di Kota Semarang

×

Haul Ki Ageng Pandanaran Diisi Pagelaran Wayang Kulit, di Kota Semarang

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

SEMARANG – Peringatan haul Ki Ageng Pandanaran kembali digelar sebagai bentuk penghormatan atas jasa dan perjuangan tokoh penyebar agama Islam di Kota Semarang. Salah satu rangkaian kegiatan haul tersebut diisi dengan pagelaran wayang kulit yang dilaksanakan pada Sabtu (20/12/2025). Kegiatan ini menjadi bagian dari haul akbar Ki Ageng Pandanaran yang rutin diselenggarakan setiap tahun dengan berbagai bentuk kegiatan budaya dan keagamaan.

Generasi ke lima Ki Ageng Pandanaran , H. Aris Pandan, S.Kom., M.M., menjelaskan bahwa pagelaran wayang kulit tersebut bukan sekadar hiburan, melainkan sarana pelestarian budaya sekaligus media dakwah yang memiliki nilai sejarah kuat.

“Kegiatan hari ini merupakan bagian dari rangkaian haul Ki Ageng Pandanaran atau peringatan wafat beliau. Salah satu tujuan utamanya adalah melestarikan tradisi dan dakwah Ki Ageng Pandanaran melalui wayang, hampir sama seperti metode dakwah Sunan Kalijaga pada masanya,” ujarnya.

Baca Juga :  Polres Tolitoli Gelar Nobar Wayang Kulit Amartha Binangun Secara Virtual dari Mabes Polri

Ia menuturkan bahwa Ki Ageng Pandanaran memiliki peran besar dalam menyebarkan ajaran Islam di wilayah Semarang dengan pendekatan budaya. Wayang dijadikan media dakwah agar ajaran agama dapat diterima masyarakat secara halus dan membumi.

“Melalui kegiatan ini, kita ingin mengenang sejarah dan riwayat Ki Ageng Pandanaran ketika menyebarkan syiar agama di Kota Semarang. Ini bukan hanya mengenang, tetapi juga menghidupkan kembali metode dakwah yang penuh kearifan lokal,” lanjutnya.

Menurut H. Aris Pandan, pagelaran wayang kulit yang digelar tahun ini merupakan kali kedua dilaksanakan secara khusus dalam rangkaian haul. Meski demikian, kegiatan peringatan haul Ki Ageng Pandanaran sendiri rutin dilakukan setiap tahun dengan berbagai bentuk kegiatan.

“Wayangan ini baru yang kedua, tetapi haulnya sendiri kami adakan setiap tahun. Bentuk kegiatannya bermacam-macam, ada kirab budaya, pengajian akbar, dan kegiatan keagamaan lainnya. Selain itu, pada bulan Suro kami juga rutin mengadakan kegiatan-kegiatan peringatan,” jelasnya.

Baca Juga :  Memperingati Ulang Tahun ke- 17 tahun, Komunitas Waroeng Keroncong Mengelar Mini Orkestra Keroncong

Ia menegaskan bahwa kegiatan ini memiliki dua tujuan utama. Pertama, sebagai upaya nyata melestarikan budaya tradisional, khususnya seni wayang kulit. Kedua, sebagai sarana untuk mengenang dan meneruskan semangat dakwah Ki Ageng Pandanaran yang memadukan nilai agama dan budaya.

“Tujuan utamanya tentu melestarikan budaya. Yang kedua, mengenang bagaimana syiar Ki Ageng Pandanaran dulu dilakukan melalui wayang. Ini penting agar sejarah dan nilai-nilai perjuangan beliau tidak hilang,” katanya.

Lebih jauh, kegiatan ini juga diarahkan untuk memperkenalkan kembali seni wayang kulit kepada generasi muda yang saat ini dinilai semakin jauh dari budaya tradisional.

“Sekarang generasi muda lebih mengenal drama Korea, drama China, dan TikTok. Wayang kulit mulai jarang dikenal. Melalui kegiatan seperti ini, kami ingin generasi muda kembali mengenal, memahami, dan mencintai budaya sendiri,” tutur H. Aris Pandan.

Baca Juga :  Semarang Night Carnival Community Resmi Dikukuhkan, Siap Mendunia Lewat Karnaval Malam Spektakuler

Ke depan H. Aris Pandan, S.Kom., M.M., berharap kegiatan serupa dapat dilaksanakan secara rutin dan dikembangkan dalam bentuk festival budaya yang lebih besar. Tidak hanya wayang kulit, tetapi juga seni tradisi lainnya.

“Harapannya kegiatan ini bisa rutin dilaksanakan dan dikembangkan menjadi festival budaya, baik wayang kulit, wayang orang, maupun kirab budaya. Dengan begitu, masyarakat bisa lebih mengenal dan memahami secara lebih mendalam sejarah Ki Ageng Pandanaran melalui kegiatan budaya yang kita lakukan,” pungkasnya.

Pagelaran wayang kulit dalam rangka haul Ki Ageng Pandanaran ini mendapat antusiasme dari masyarakat dan diharapkan menjadi salah satu sarana edukasi sejarah, pelestarian budaya, serta penguatan identitas budaya lokal Kota Semarang.(msa)

Example 300250
Example 120x600