Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
Pendidikan

Dari Gagasan Kampus Kerakyatan hingga Menembus Zaman: Jejak adalah Prof. Dr. Ir. Wani Hadi Utomo dan Prof. Dr. Ir. Bambang Guritno Membuka Pendidikan Tinggi untuk Semua

×

Dari Gagasan Kampus Kerakyatan hingga Menembus Zaman: Jejak adalah Prof. Dr. Ir. Wani Hadi Utomo dan Prof. Dr. Ir. Bambang Guritno Membuka Pendidikan Tinggi untuk Semua

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

MALANG — Universitas Tribhuwana Tunggadewi (UNITRI) Malang tidak lahir semata dari keputusan administratif mendirikan sebuah perguruan tinggi. Di balik berdirinya kampus yang pada 2 Agustus 2026 genap berusia 25 tahun itu, terdapat gagasan besar tentang pendidikan sebagai jalan mobilitas sosial—pendidikan tinggi yang tidak boleh hanya menjadi milik mereka yang memiliki kemampuan ekonomi.

Gagasan tersebut menjadi fondasi perjalanan UNITRI. Dua nama yang menempati posisi penting dalam sejarah awal kampus adalah Prof. Dr. Ir. Wani Hadi Utomo dan Prof. Dr. Ir. Bambang Guritno. Keduanya menjadi bagian dari kalangan akademisi yang mendorong lahirnya perguruan tinggi dengan semangat kerakyatan di Malang.

Dari gagasan itulah UNITRI kemudian berkembang dari dua sekolah tinggi menjadi sebuah universitas yang kini menaungi berbagai disiplin ilmu, mulai dari pertanian, ekonomi, teknik, ilmu sosial, kesehatan, pendidikan, sains dan teknologi hingga program pascasarjana.

Bagi Prof. Dr. Ir. Wani Hadi Utomo saat di hubungi awak media pada hari Kamis (13/08/2026) mengatakan perjalanan UNITRI tidak dapat dilepaskan dari cita-cita awal para pendirinya.

“UNITRI sejak awal dibangun dengan semangat kampus kerakyatan. Pendidikan tinggi harus bisa diakses oleh masyarakat luas, bukan hanya mereka yang mempunyai kemampuan ekonomi yang kuat,” kata Wani Hadi Utomo.

Berawal dari gagasan Pendidikan untuk Rakyat, Wani Hadi Utomo dan Bambang Guritno di balik fondasi awal. Jejak UNITRI bermula dari Yayasan Pendidikan Bhakti Nusantara. Yayasan tersebut didirikan pada 14 Desember 1987. Persiapan awal pengembangan lembaga pendidikan kemudian dilakukan di Jalan Besar Ijen 90-92, Malang, pada 1988.

Pada masa itu, tantangan pendidikan tinggi di Indonesia masih sangat besar. Akses perguruan tinggi belum merata. Banyak anak muda dari keluarga ekonomi menengah ke bawah, termasuk mereka yang berasal dari kawasan Indonesia Timur, menghadapi keterbatasan untuk memperoleh pendidikan tinggi.

Kondisi itulah yang mendorong para penggagas UNITRI untuk menghadirkan sebuah institusi pendidikan yang lebih terbuka. Dengan slogan “Pendidikan Tinggi untuk Semua” kemudian menjadi napas dari konsep “Kampus Kerakyatan” yang diusung UNITRI.

“Yang menjadi perhatian waktu itu adalah bagaimana pendidikan tinggi tidak menjadi sesuatu yang eksklusif. Anak-anak dari daerah, dari keluarga sederhana, harus mempunyai kesempatan yang sama untuk kuliah,” ujar Wani.

Konsep tersebut kemudian diwujudkan secara bertahap. Pada 1990, Yayasan Pendidikan Bhakti Nusantara membuka Sekolah Tinggi Pertanian (STIPER) Tribhuwana. Lima tahun kemudian, pada 1995, berdiri Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Tribhuwana. Dua institusi tersebut menjadi embrio lahirnya UNITRI.

Dalam sejarah pendirian UNITRI, nama Prof. Dr. Ir. Wani Hadi Utomo dan Prof. Dr. Ir. Bambang Guritno menjadi bagian penting dari perjalanan akademik dan kelembagaan kampus. Keduanya bukan sekadar melihat pendidikan sebagai proses transfer pengetahuan. Pendidikan diposisikan sebagai instrumen untuk membuka kesempatan dan meningkatkan kehidupan masyarakat.

Semangat tersebut kemudian menemukan bentuk kelembagaan pada 2 Agustus 2001. Pada tanggal itu, berdasarkan SK Mendiknas Nomor 113/D/O/2001, STIPER Tribhuwana dan STIE Tribhuwana digabung menjadi Universitas Tribhuwana Tunggadewi, atau UNITRI.

Nama Tribhuwana Tunggadewi sendiri membawa simbol sejarah Nusantara. Ia merujuk kepada Tribhuwana Tunggadewi, ratu Majapahit yang dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam perjalanan sejarah kerajaan tersebut.

Namun UNITRI tidak berhenti pada simbol sejarah. Ia membangun identitasnya sebagai universitas yang menempatkan masyarakat sebagai pusat pengabdian pendidikan.

“Semangat kerakyatan itu bukan berarti kualitasnya rendah. Justru tantangannya adalah bagaimana pendidikan yang terjangkau tetap mempunyai kualitas dan menghasilkan lulusan yang kompeten,” tutur Wani.

Seperempat abad setelah resmi menjadi universitas, UNITRI berkembang menjadi perguruan tinggi dengan tujuh fakultas dan berbagai jenjang pendidikan. Antara lain Fakultas Pertanian menaungi Agribisnis, Agroteknologi dan Peternakan. Fakultas Ekonomi memiliki Manajemen dan Akuntansi. Fakultas Teknik mencakup Teknik Sipil dan Teknik Kimia. Sementara itu, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik memiliki Administrasi Publik dan Ilmu Komunikasi. Fakultas Ilmu Kesehatan menaungi Keperawatan, Profesi Ners dan D-4 Bidan Terapan. Fakultas Ilmu Pendidikan memiliki Pendidikan Biologi, Pendidikan Matematika dan PGSD. Adapun Fakultas Sains dan Teknologi mengembangkan Arsitektur Lanskap serta Teknologi Industri Pertanian.

Di tingkat pascasarjana, UNITRI mengembangkan Magister Ekonomi Pembangunan, Magister Administrasi Publik dan Magister Manajemen. Perkembangan itu juga ditandai dengan keberadaan beberapa kawasan kampus. Kampus 1 di Jalan Raya Telaga Warna, Tlogomas, Lowokwaru, Kota Malang, menjadi pusat administrasi dan kegiatan akademik utama. Kampus 2, Science Technopark di kawasan Jalan Tirto Rahayu, diarahkan untuk pengembangan riset, teknologi, inovasi dan hilirisasi hasil penelitian. Sementara Kampus 3 UNITRI Agroedupark di Desa Dalisodo, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang, dikembangkan sebagai ruang pembelajaran lapangan, khususnya untuk pertanian, peternakan dan konservasi lingkungan.

Perjalanan tersebut menunjukkan perubahan besar dari sebuah gagasan sederhana tentang akses pendidikan menjadi ekosistem pendidikan tinggi yang lebih luas. Beasiswa membuka pintu bagi mereka yang terbatas biaya. Semangat “Pendidikan Tinggi untuk Semua” juga tercermin dalam skema pembiayaan pendidikan yang dikembangkan UNITRI. Kampus menyediakan sejumlah pilihan beasiswa, mulai dari Beasiswa Yayasan, KIP Kuliah, Beasiswa Prestasi hingga Beasiswa Kemitraan/Pemerintah Daerah.
Beasiswa Yayasan antara lain diberikan dalam bentuk pembebasan atau subsidi SPP bagi mahasiswa sesuai ketentuan dan kuota yang berlaku.

Baca Juga :  Pemerintah Wacanakan Siswa Belajar di Rumah Terukur dan Berbasis Data

Ada pula KIP Kuliah, program pemerintah yang ditujukan bagi mahasiswa dari keluarga kurang mampu secara ekonomi dan memenuhi persyaratan program. Bantuan ini dapat mencakup biaya pendidikan serta dukungan biaya hidup sesuai ketentuan pemerintah.

Sementara Beasiswa Prestasi diberikan kepada calon mahasiswa dengan capaian akademik maupun nonakademik, termasuk bidang olahraga, seni dan prestasi lainnya.

UNITRI juga membuka peluang beasiswa melalui kemitraan dengan pemerintah daerah maupun lembaga mitra.

Bagi Wani, beasiswa bukan sekadar instrumen promosi penerimaan mahasiswa baru. Lebih jauh, beasiswa merupakan bagian dari gagasan awal pendirian UNITRI.

“Kalau kita bicara kampus kerakyatan, maka persoalan biaya pendidikan tidak boleh diabaikan. Anak yang mempunyai kemampuan akademik tetapi terbentur persoalan ekonomi harus tetap diberi kesempatan,” katanya.

Pendidikan bukan sekadar gelar. Di tengah perubahan dunia kerja yang semakin cepat, tantangan universitas tidak berhenti pada memperbesar jumlah mahasiswa. UNITRI dituntut menghasilkan lulusan yang mampu menjawab persoalan nyata di masyarakat.

Karena itu, visi universitas diarahkan menjadi “menjadi universitas kerakyatan transformatif, unggul, dan berdaya saing global” dala artian Perguruan Tinggi yang menyelenggarakan pendidikan tinggi untuk seluruh lapisan masyarakat tanpa diskriminasi, berwawasan kebangsaan, dan inklusif.Nilai yang dicita-citakan, selanjutnya disebut sebagai Universitas Kerakyatan yang menyelenggarakan pendidikan tanpa membedakan latar belakang ekonomi, suku bangsa dan agama, dengan motto pendidikan untuk semua atau dalam kalimat berbahasa Inggris adalah Education for all. Serta makna kerakyatan ditempatkan pada keterbukaan akses, inklusivitas dan keberpihakan kepada masyarakat luas. Sementara kompetensi dan kualitas menjadi ukuran bahwa kesempatan memperoleh pendidikan harus berjalan seiring dengan mutu lulusan.

Misi tersebut diterjemahkan melalui menyelenggarakan pendidikan tinggi yang berkualitas dan inklusif dengan biaya terjangkau bagi semua lapisan masyakaratuntuk menghasilkan lulusan yang kompeten, profesional, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat dan dunia kerja. Mengembangkan penelitian dan inovasi yang unggul yang relevan dengan kebutuhan masyakaratdan berdampak, yang menghasilkan ipteks yang bermanfaat bagi masyarakat serta mampu bersaing di tingkat nasional, regional serta menembus batas internasional. Melaksanakan pengabdian kepada masyarakat berbasis keilmuan yang berorientasi pada pemberdayaan dan mampu meningkatkan kesejahteraan dan kemandirian masyarakat. Membangun tata kelola perguruan tinggi yang baik yang transparan, akuntabel, berkelanjutan serta adaptif terhadap perkembangan global. Mengembangkan jejaring dan kerjasama strategis di tingkat regional, nasional, dan internasional untuk meningkatkan reputasi dan daya saing global. Memperkuat karakter kerakyatan melalui akses pendidikan yang adil, inklusif bagi semua lapisan Masyarakatserta keberpihakan pada kebutuhan masyarakat luas. Sehingga pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat bisa tercapai. Riset diarahkan tidak hanya untuk menghasilkan publikasi, tetapi juga memberikan solusi terhadap persoalan masyarakat. Pengembangan kewirausahaan didorong agar lulusan tidak semata mencari pekerjaan, tetapi juga mampu menciptakan peluang ekonomi.

“Universitas harus hadir di tengah masyarakat. Ilmu yang diperoleh mahasiswa harus mempunyai manfaat. Itulah yang sejak awal menjadi bagian dari semangat UNITRI,” kata Wani.

Dari Jalan Ijen hingga Agroedupark. Kini, perjalanan UNITRI telah melewati rentang waktu hampir empat dekade sejak gagasan kelembagaannya mulai dibangun. Dari persiapan di Jalan Besar Ijen pada akhir 1980-an, kemudian STIPER pada 1990, STIE pada 1995, hingga menjadi universitas pada 2001, UNITRI terus bergerak.

Pada 2011, pengelolaan yayasan kemudian beralih ke Yayasan Bina Patria Nusantara. Namun satu hal yang berusaha dipertahankan adalah gagasan awalnya: pendidikan tinggi harus menjadi ruang terbuka bagi masyarakat.

Di titik inilah nama Wani Hadi Utomo dan Bambang Guritnomenjadi penting. Mereka bukan hanya bagian dari catatan administratif berdirinya sebuah universitas, tetapi bagian dari generasi yang meletakkan fondasi pemikiran bahwa perguruan tinggi dapat menjadi alat untuk memperluas kesempatan hidup.

Seperempat abad setelah UNITRI resmi berdiri, pertanyaan yang paling penting bukan lagi seberapa besar kampus itu telah berkembang. Pertanyaannya adalah seberapa jauh cita-cita “Pendidikan Tinggi untuk Semua” masih mampu diwujudkan di tengah perubahan zaman. Dan bagi Wani Hadi Utomo, jawabannya terletak pada keberanian universitas untuk tetap berpihak kepada masyarakat tanpa mengorbankan kualitas.

“Kita boleh berkembang, kita boleh modern, kita boleh mengikuti perkembangan teknologi. Tetapi jangan sampai kehilangan roh awalnya. UNITRI harus tetap menjadi kampus yang membuka pintu bagi rakyat dan memberikan pendidikan yang berkualitas.”(msa)

Example 120x600
error: Content is protected !!