Example floating
Example floating
Pendidikan

Wisuda Unitri Periode 52: 400 Lulusan Siap Gempur Dunia Kerja, Bawa Kompetensi, Karakter, dan Jiwa Kerakyatan

×

Wisuda Unitri Periode 52: 400 Lulusan Siap Gempur Dunia Kerja, Bawa Kompetensi, Karakter, dan Jiwa Kerakyatan

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

MALANG — Bukan sekadar seremoni pelepasan, Wisuda Periode ke-52 Universitas Tribhuwana Tunggadewi (UNITRI) Malang menjadi momentum penting yang menandai lahirnya 400 lulusan siap tempur menghadapi dunia kerja, dunia usaha, dan tantangan masyarakat yang terus berubah.

Digelar Sabtu (22/8) di GOR Unitri, prosesi wisuda tersebut menjadi panggung penegasan bahwa pendidikan tinggi tidak boleh berhenti pada selembar ijazah. Di tangan para lulusan, ilmu harus berubah menjadi karya, kompetensi harus menjelma menjadi kontribusi, dan karakter harus menjadi kekuatan untuk menghadapi kerasnya persaingan kehidupan.

Rektor UNITRI, Prof. Dodi Wirawan Irawanto, S.E., M.Com., Ph.D., menegaskan bahwa kelulusan bukanlah garis akhir perjalanan akademik. Justru, wisuda merupakan pintu masuk menuju medan pengabdian yang sesungguhnya.

“Lulusan tidak hanya membawa kompetensi akademik, tetapi juga karakter, pengalaman, kemampuan beradaptasi, dan nilai-nilai yang diperoleh selama menempuh pendidikan. Semua itu harus diterapkan di dunia kerja dan masyarakat,” tegas Prof. Dodi.

Pesan tersebut mendapat penekanan kuat dari Kepala LLDIKTI Wilayah VII, Prof. Dr. Dyah Sawitri, S.E., M.M. Menurutnya, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab besar untuk melahirkan sumber daya manusia yang bukan hanya pintar secara akademik, tetapi juga memiliki karakter kuat dan mampu menjawab perubahan zaman.

“Lulusan perguruan tinggi harus memiliki kompetensi sekaligus karakter yang kuat, mampu beradaptasi terhadap perubahan, serta memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat,” ujar Prof. Dyah Sawitri.

Ijazah saja tak cukup. UNITRI menyadari bahwa dunia kerja hari ini bergerak sangat cepat. Karena itu, kampus terus memperkuat berbagai program yang menjembatani pendidikan akademik dengan kebutuhan nyata di lapangan.

Kemitraan strategis dengan berbagai pihak terus diperluas, antara lain bersama PT Petrokimia Gresik, pemerintah daerah, hingga komunitas di wilayah Wagir, Kabupaten Malang. Kolaborasi tersebut tidak berhenti pada kerja sama administratif. UNITRI mendorong terbentuknya ekosistem pertanian berkelanjutan melalui pendekatan penta-helix, sekaligus membuka ruang bagi mahasiswa untuk merasakan langsung denyut persoalan masyarakat, dunia profesional, dan kebutuhan industri. Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya belajar teori di ruang kelas, tetapi juga ditempa melalui pengalaman nyata.

Baca Juga :  178 Mahasiswa Manajemen Umsida Ikuti Studi Ekskursi dan Seminar Internasional ke Bandung

“Ketika mahasiswa sudah terbiasa berinteraksi dengan masyarakat dan mitra profesional sebelum lulus, mereka memiliki pengalaman yang jauh lebih kuat ketika memasuki dunia kerja,” jelas Prof. Dodi.

Semangat pendidikan kerakyatan UNITRI juga terlihat melalui penyelenggaraan Kuliah Kerja Nyata (KKN) tematik yang bekerja sama dengan konsorsium sosial dari Australia. Program tersebut memberikan ruang khusus bagi mahasiswa, terutama mahasiswa asal Nusa Tenggara Timur (NTT), untuk membawa ilmu pengetahuan pulang ke daerah asalnya. Salah satu implementasinya dilakukan melalui pendampingan literasi keuangan bersama Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) di Flores.

Bagi UNITRI, KKN bukan sekadar kewajiban akademik. KKN menjadi laboratorium sosial tempat mahasiswa belajar bahwa ilmu pengetahuan akan kehilangan makna apabila tidak mampu menyentuh dan menyelesaikan persoalan masyarakat.

“KKN di daerah asal memberi peluang bagi mahasiswa untuk lebih cepat mengimplementasikan ilmu. Mereka dapat membantu literasi keuangan di Flores atau mendampingi masyarakat bersama mitra seperti Petrokimia. Setelah lulus, mereka sudah dikenal dan lebih siap diserap pemerintah daerah maupun sektor swasta,” ungkap Prof. Dodi.

Upaya meningkatkan daya saing lulusan juga diperkuat melalui sertifikasi keahlian yang menjadi bagian dari Surat Keterangan Pendamping Ijazah (SKPI). Fakultas Teknik, misalnya, menjalin kemitraan dengan lembaga PTUK untuk memberikan sertifikasi BNSP di bidang supervisi manajemen proyek. Sementara Fakultas Ekonomi memperkuat keterampilan mahasiswa melalui pelatihan perpajakan yang mengikuti perkembangan sistem Coretax di Indonesia.

Langkah tersebut menunjukkan bahwa UNITRI tidak ingin lulusannya hanya membawa gelar akademik. Mereka juga dibekali kompetensi tambahan yang dapat menjadi nilai tawar ketika memasuki dunia profesional.

Semangat perjuangan akademik itu tercermin dari sosok Yosep Perianto, lulusan terbaik Program Studi Manajemen UNITRI dengan raihan IPK 3,97. Pemuda asal Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, tersebut justru tidak menjadikan predikat lulusan terbaik sebagai target utama. Baginya, yang jauh lebih penting adalah menjalani proses pendidikan dengan sungguh-sungguh, menjaga keterbukaan, mengendalikan ego, membangun relasi, dan terus belajar dari keberagaman manusia yang ditemuinya selama berada di UNITRI. Yosep bahkan menyoroti dua tantangan besar generasi muda saat ini: kemalasan dan krisis kejujuran.

Baca Juga :  Ketua YPTA dan Dosen Untag Surabaya Menjadi Narasumber Team Bonding BEM UBAYA

“Tantangan generasi saat ini adalah kemalasan dan kejujuran. Saya melihat UNITRI telah berupaya membentuk lulusannya menjadi pribadi yang tekun, jujur, sopan, dan memiliki budi pekerti unggul,” ujarnya.

Raihan IPK 3,97 tersebut dipersembahkan Yosep untuk almarhum Pilatus Marson dan Kristina Kanim.

Ada satu hal yang membuat perjalanan Yosep di UNITRI terasa lebih bermakna: keberagaman. Datang dari Kalimantan Barat, ia bertemu mahasiswa dari berbagai daerah dengan latar budaya, bahasa, tradisi, dan karakter yang berbeda.

Di situlah ia menemukan bahwa kampus bukan hanya tempat memperoleh ilmu, tetapi juga ruang untuk belajar menjadi manusia Indonesia.

“UNITRI bagi saya seperti miniatur Indonesia. Saya dapat merajut pertemanan lintas daerah, memahami ragam budaya, dan memperluas wawasan sosial,” kata Yosep.

Kalimat tersebut menjadi gambaran kuat tentang wajah UNITRI sebagai kampus yang mempertemukan berbagai latar belakang dalam satu ruang pendidikan.

Kini 400 wisudawan Periode 52 resmi memasuki babak baru. Mereka akan menghadapi dunia yang tidak selalu ramah, persaingan yang semakin ketat, teknologi yang terus berubah, serta tuntutan profesionalisme yang semakin tinggi.

Namun UNITRI ingin para alumninya tidak sekadar menjadi pencari kerja. Mereka diharapkan tumbuh menjadi pencipta peluang, penggerak perubahan, profesional yang berintegritas, serta insan yang mampu menghadirkan solusi bagi masyarakat.

Prof. Dodi menegaskan, nilai pendidikan yang inklusif dan pro-rakyat harus tetap hidup setelah mahasiswa meninggalkan kampus.

“Saya berharap para wisudawan senantiasa menjadi penggerak di mana pun mereka berkarya. Nilai-nilai pendidikan kerakyatan yang ditanamkan selama studi diharapkan melahirkan inovasi dan kontribusi nyata bagi masyarakat,” pungkas Prof. Dodi.

Wisuda Periode 52 akhirnya bukan sekadar catatan administratif tentang 400 orang yang dinyatakan lulus. Lebih dari itu, Sabtu 22 Agustus 2026 menjadi penanda bahwa UNITRI kembali melepas putra-putri terbaiknya menuju medan kehidupan—membawa ilmu, menggenggam kompetensi, menjunjung karakter, dan siap mengabdi untuk Indonesia.

Dari kampus kerakyatan, mereka melangkah menuju dunia nyata. Bukan hanya untuk mencari masa depan, tetapi untuk ikut menciptakan masa depan.(msa)

Example 120x600
error: Content is protected !!