KABUPATEN SEMARANG – Peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di kawasan Rawa Pening, Kabupaten Semarang pada hari Senin (17/08/2026), kembali dikemas dengan cara yang berbeda. Bukan sekadar upacara dan seremoni, peringatan kemerdekaan itu menjadi panggung budaya yang mempertemukan sejarah, lingkungan, ketahanan pangan, serta pesan tentang pentingnya menjaga jati diri generasi muda.
Penyelenggara kegiatan, Rama Pujiyanto, mengatakan peringatan 17 Agustus di Rawa Pening tahun ini merupakan kali kedua digelar dengan mengusung tema budaya Nusantara.
“Ini yang kedua kali. Tahun 2025 saya juga melaksanakan upacara 17 Agustus. Saat itu temanya wayang, dari wayang wong. Semua peserta menggunakan karakter wayang, ada Werkudara, Tresna, para punakawan dan lainnya,” kata Rama.
Untuk peringatan tahun 2026, konsep tersebut dikembangkan dengan mengangkat kehidupan petani dan nelayan sebagai tema utama.
Menurut Rama, pilihan tema itu bukan tanpa alasan. Petani dan nelayan merupakan bagian penting dari kehidupan masyarakat sekaligus memiliki kaitan erat dengan persoalan ketahanan pangan.
“Harapannya supaya ada ketahanan pangan, baik lauk-pauk maupun perikanan. Kenapa air? Supaya orang ingat bahwa Rawa Pening ini berada di Kabupaten Semarang,” ujarnya.
Bagi Rama, air bukan hanya bagian dari lanskap Rawa Pening. Air adalah sumber kehidupan yang menyimpan pesan ekologis sekaligus kebudayaan. Karena itu, peringatan kemerdekaan sengaja ditempatkan dalam konteks hubungan manusia dengan alam.
“Saya senang dengan air, karena dengan air itu semua pasti ada,” katanya.
Setiap hari, kawasan Rawa Pening menjadi ruang aktivitas masyarakat. Ribuan orang datang ke kawasan tersebut, termasuk mereka yang memancing di bagian hulu hingga kawasan puncak.
Namun Rama ingin kegiatan tersebut tidak berhenti pada aktivitas mengambil hasil alam.
“Kalau orang lain mancing, saya memberi. Kalau orang lain mengambil, saya malah meletakkan. Saya berharap ikan-ikan bisa berkembang biak,” tuturnya.
Pesan itu sekaligus menunjukkan bahwa kemerdekaan, menurut Rama, tidak semestinya hanya diperingati dengan upacara. Kemerdekaan harus diterjemahkan menjadi kesadaran untuk merawat alam dan meninggalkan sesuatu yang baik bagi generasi berikutnya.
Lebih jauh, kegiatan budaya di Rawa Pening juga diarahkan untuk mendekatkan generasi muda dengan warisan para leluhur.
Rama berharap generasi milenial dan generasi muda tidak sekadar menjadi penonton, tetapi memahami makna dari setiap kegiatan budaya yang dilakukan.
“Harapan saya, terutama generasi milenial, mudah-mudahan bisa mengerti dan tahu apa yang kita lakukan. Sehingga nanti bisa mengikuti apa yang pernah dilakukan para sesepuh dan pinisepuh,” katanya.
Di tengah derasnya arus media sosial, ia melihat dokumentasi kegiatan budaya justru dapat menjadi jejak yang penting. Apa yang dilakukan hari ini dapat menjadi bahan pembelajaran bagi generasi mendatang.
“Sekarang zamannya media. Jejak-jejak apa yang kita lakukan pasti ada. Pesannya bagi generasi muda supaya mau belajar dan belajar etika, belajar perilaku, belajar kebaikan. Jangan sampai generasi muda kehilangan jati dirinya,” ujar Rama.
Apresiasi terhadap kegiatan tersebut disampaikan Tri Subekso, dari Dinas Pendidikan, Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Semarang, yang juga merupakan Tim Ahli Cagar Budaya Kabupaten Semarang. Kegiatan ini luar biasa sekali karena kalau biasanya baris berbaris tapi kali ini menyaru dengan alam.
Tri menilai kegiatan tersebut memiliki nilai penting karena melibatkan para budayawan dan penggiat budaya untuk mengekspresikan kecintaan terhadap warisan budaya melalui seni.
“Saya sangat mengapresiasi sekali dengan kegiatan ini. Karena kegiatan ini diikuti oleh para budayawan, penggiat budaya, di mana mereka mengekspresikan melalui tarian di perahu tadi di Rawa Pening,” kata Tri.
Menurut dia, ruang seperti Rawa Pening dapat menjadi media pembelajaran sejarah yang lebih dekat dengan masyarakat, terutama generasi muda.
Di tengah perubahan zaman, cara menyampaikan sejarah dan kebudayaan memang dituntut semakin kreatif. Seni pertunjukan, perahu, air, hingga ruang terbuka dapat menjadi medium untuk memperkenalkan kembali nilai-nilai masa lalu.
“Kita berharap para generasi muda bisa melihat sejarah masa lalu melalui media yang banyak saat ini, sehingga kegiatan ini tidak hilang begitu saja,” ujarnya.
Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Rawa Pening akhirnya tidak hanya berbicara tentang tanggal 17 Agustus 1945. Ia menjadi ruang perjumpaan antara masa lalu dan masa depan: antara tradisi dan teknologi, antara budaya dan lingkungan, serta antara petani, nelayan dan generasi muda.
Di atas air Rawa Pening, pesan kemerdekaan itu menemukan bentuk lain: bahwa bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang mampu mengenang sejarah, tetapi juga bangsa yang mampu merawat alam, menjaga pangan, menghormati leluhur, dan mewariskan jati diri kepada generasi berikutnya.(msa)






