Example floating
Example floating
Budaya

MATRA Sidoarjo Gelar Safari Punden, Rawat Jejak Leluhur dan Satukan Generasi Muda

×

MATRA Sidoarjo Gelar Safari Punden, Rawat Jejak Leluhur dan Satukan Generasi Muda

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

SIDOARJO — Upaya melestarikan budaya dan mengenang jasa para leluhur terus dilakukan Masyarakat Adat Nusantara (MATRA) Sidoarjo. Salah satunya melalui kegiatan Safari Punden yang digelar secara rutin dengan mengunjungi sejumlah situs atau punden yang memiliki nilai sejarah dan budaya di wilayah Sidoarjo.

Ketua DPD MATRA Sidoarjo, Heru Arifianto, S.E., mengatakan Safari Punden menjadi salah satu bentuk nyata kepedulian terhadap warisan budaya leluhur sekaligus sarana mempererat hubungan antarsesama warga. Hal tersebut disampaikan Heru kepada awak media, Kamis (27/8/2026).

“Saya didapuk dulur-dulur sebagai Ketua DPD MATRA Sidoarjo. Dalam rangka kegiatan rutin MATRA Sidoarjo, kami ingin menunjukkan bahwa apa yang sering disebut sebagai uri-uri budaya leluhur itu harus benar-benar diwujudkan. Salah satunya dengan mengenang perjuangan para leluhur seperti Mbah Demang di Sidomulyo, Sidoarjo,” ujar Heru.

Menurutnya, kegiatan Safari Punden tidak hanya bertujuan mengunjungi tempat-tempat bersejarah, tetapi juga menjadi momentum untuk sambung silaturahmi, sambang leluhur, sambung rasa, dan sambung dulur.

Heru menjelaskan, kegiatan tersebut direncanakan berlangsung secara rutin setiap bulan. Setelah mengunjungi salah satu punden, MATRA Sidoarjo akan melanjutkan safari ke berbagai lokasi lain yang memiliki nilai sejarah perjuangan dan kebudayaan di Sidoarjo.

“Insyaallah kegiatan ini akan kami lakukan rutin setiap bulan. Bulan depan kami akan kembali mengunjungi tempat-tempat yang memiliki nilai perjuangan dan sejarah di Sidoarjo,” katanya.

Baca Juga :  Anggoro Kasih Menggugat Regenerasi Budaya

Ia berharap kegiatan tersebut dapat menjadi wadah untuk mempertemukan masyarakat Sidoarjo yang memiliki kepedulian dan frekuensi yang sama dalam menjaga serta melestarikan budaya lokal.

Menurut Heru, pelestarian budaya tidak boleh hanya menjadi tanggung jawab generasi tua. Keterlibatan generasi muda sangat penting agar keberadaan situs, tradisi, sejarah, dan nilai-nilai luhur peninggalan leluhur tidak terputus.

“Kami ingin mengumpulkan dulur-dulur Sidoarjo yang mempunyai kepedulian yang sama untuk melestarikan budaya lokal, khususnya budaya Sidoarjo,” tuturnya.

Heru juga mengaku prihatin apabila generasi muda semakin jauh dari sejarah dan leluhurnya. Karena itu, kegiatan seperti Safari Punden diharapkan dapat menjadi pintu masuk bagi anak-anak muda untuk mengenal kembali sejarah daerahnya.

“Kadang kita perlu bertanya kepada orang-orang tua. Banyak sejarah dan cerita leluhur yang mungkin belum kita dengar atau belum kita ketahui. Mudah-mudahan dengan adanya kegiatan ini, ke depan bukan hanya generasi tua yang bergerak, tetapi anak-anak muda juga ikut datang dan terlibat,” ungkapnya.

Selain pelestarian budaya, MATRA Sidoarjo juga berharap kegiatan tersebut dapat menjadi ruang untuk mempererat hubungan berbagai organisasi masyarakat (ormas) dan komunitas yang ada di Kabupaten Sidoarjo.

Baca Juga :  Meriahkan HUT ke-81 RI, Rawa Pening Jadi Panggung Budaya Petani dan Nelayan

Heru menyadari bahwa setiap organisasi memiliki latar belakang dan pemikiran yang berbeda. Namun, perbedaan tersebut tidak seharusnya menjadi penghalang untuk membangun kebersamaan dalam menjaga Sidoarjo.

“Ormas dan organisasi masyarakat di Sidoarjo ini banyak. Budaya dan pemikirannya juga beragam. Kalau bisa, kita bersatu. MATRA ini sebenarnya hanya sebagai wadah untuk mempertemukan dulur-dulur, kemudian bersama-sama memikirkan Sidoarjo,” jelasnya.

Ia menegaskan, tujuan utama kegiatan bukan sekadar melakukan kunjungan ke punden, melainkan membangun kesadaran bersama bahwa masyarakat masa kini memiliki hubungan sejarah yang tidak dapat dipisahkan dari leluhur.

Heru pun mengajak generasi milenial dan generasi muda agar tidak malu mempelajari budaya serta sejarah leluhur.

“Pesan saya kepada generasi muda, jangan pernah melupakan leluhur. Kita hadir karena ada mereka. Kita ada karena orang tua kita, dan orang tua kita ada karena leluhur. Jangan sampai hubungan itu dihilangkan,” tegasnya.

Menurutnya, budaya Jawa dan warisan leluhur tidak selayaknya dianggap kuno atau ketinggalan zaman. Justru, nilai-nilai yang diwariskan leluhur dapat menjadi identitas sekaligus kekuatan generasi penerus dalam menghadapi perubahan zaman.

“Jangan menganggap budaya leluhur itu tidak update. Justru budaya Jawa dan leluhur kita itu keren. Generasi penerus harus mengenal leluhurnya,” pungkas Heru. (msa)

Example 120x600
error: Content is protected !!