SIDOARJO — Budaya Nusantara tak cukup hanya dilestarikan para sesepuh. Tanpa regenerasi, seni tradisi terancam makin jauh dari generasi muda yang kini lebih akrab dengan gadget dan budaya populer.
Kegelisahan itu coba dijawab melalui Malam Anggoro Kasih di Taman Tirta PG Candi, Sidoarjo, Senin (14/9/2026). Kegiatan tersebut menjadi langkah awal menghidupkan kembali Taman Tirta sebagai ruang publik berbasis kebudayaan.
Ketua Umum LP2KN Mohammad Ainul Yaqin, SH, mengatakan kegiatan itu digelar bersama PT Candi dan komunitas Tilik Mburi. Ke depan, Malam Anggoro Kasih diharapkan rutin diisi mocopat dan berbagai pentas seni.
“Atas permintaan dan kerja sama dengan PT Candi serta komunitas Tilik Mburi, kami ingin menghidupkan Taman Tirta ini dengan kegiatan budaya. Ke depan, setiap malam Anggoro Kasih bisa digunakan untuk kegiatan mocopat dan pentas seni lainnya,” ujar Ainul.
Dia berharap komunitas anak muda ikut masuk dan terlibat. Menurutnya, kegiatan budaya tidak boleh berhenti sebagai agenda seremonial, tetapi harus menjadi ruang pertemuan lintas generasi.
Dukungan juga disampaikan Mohammad Muhaimin dari manajemen PG Candi. Dia menegaskan perusahaan terbuka terhadap masyarakat dan berbagai unsur lintas sektoral untuk mengembangkan kegiatan positif.
“Budaya adalah identitas bangsa kita. Kegiatan seperti ini sangat baik karena budaya juga menjadi pedoman dalam kehidupan sehari-hari yang harus kita implementasikan,” tuturnya.
Namun, Muhaimin mengakui tantangan terbesar adalah menarik minat generasi muda. Sebab, kegiatan budaya selama ini masih didominasi kalangan sepuh.
“Kalau kita lihat, yang hadir mayoritas masih para sesepuh atau yang sudah tua. Ini kesempatan yang baik untuk kita pikirkan bersama bagaimana budaya kita bisa menarik di kalangan generasi muda,” katanya.
Karena itu, cara memperkenalkan budaya harus mengikuti perkembangan zaman, termasuk melalui penyiaran dan promosi digital. Taman Tirta bukan sekadar tempat pentas, tetapi menjadi ruang tumbuh dan regenerasi budaya—agar tradisi tidak hanya dikenang, melainkan terus hidup di tangan generasi berikutnya. (msa)











