KEDIRI – Munna Laili Hidayana, yang akrab disapa Laili, bersiap menggelar pameran tunggal pertamanya di Surabaya pada 5 hingga 9 September mendatang. Yang menarik, pelukis muda asal Kediri ini bukan lulusan perguruan tinggi seni, melainkan tamatan SMA yang berlatar pendidikan pondok pesantren.
Pameran ini menjadi tonggak awal perjalanan Laili di dunia seni rupa profesional. “Saya bukan sarjana seni, hanya lulusan SMA yang dulu mondok. “Ini pameran pertama saya. Saya sendiri masih banyak belajar, bahkan sempat ragu seperti apa seharusnya menjadi seniman dan bagaimana berkarya yang baik. Semoga ini menjadi pintu masuk saya untuk semakin mendalami dunia seni,” ujar Laili di Kediri, Minggu (23/8/2026) saat di hubungi awak media.
Pameran berlangsung selama lima hari, dibuka pukul 09.00 hingga 21.00 WIB setiap harinya. Selain memamerkan karya lukis, Laili juga menghadirkan sesi melukis langsung (live painting) agar pengunjung dapat menyaksikan proses penciptaan karyanya secara langsung.
Salah satu karya unggulan yang ditampilkan berjudul “Suaka Pikiran yang Tak Terbelenggu”.
“lukisan ini menampilkan sosok perempuan berpakaian atau gaun biru yang duduk tenang membaca buku di tengah suasana suram, penuh kekangan, dan keterbatasan, dan dengan rantai yang melilit pada kakinya,” ujar Laili.
“Suasananya menggambarkan keadaan yang sempit dan penuh tekanan, seolah terkurung. Namun ia tetap tenang membaca buku. Lewat karya ini saya ingin menyampaikan: sekalipun ruang gerak atau keadaan kita terbatas, pikiran dan semangat untuk terus belajar tidak boleh dibatasi. Ilmu dan bacaan adalah ruang kebebasan yang tidak bisa diambil orang lain,” tambah Laili.
Bagi Laili, pameran ini sekaligus menjadi langkah memperkenalkan diri dan membangun eksistensi. “Tujuannya agar karya saya lebih dikenal masyarakat, dan semoga ke depannya bisa berkesinambungan dengan pameran-pameran berikutnya. Saya juga berharap karya saya bisa diterima dan diminati,” ungkapnya.
Kepada generasi muda, Laili berpesan agar latar belakang pendidikan atau keadaan tidak menjadi penghalang mengejar cita-cita. “Jangan mudah menyerah. Baik di bidang seni, budaya, maupun bidang lain, teruslah berusaha dan berkarya. Mimpi tidak harus selalu dimulai dari ruang kuliah formal, tapi dari kemauan dan ketekunan,” imbuhnya.
Soetanto, pengiat budaya asal Jawa Timur, menilai karya andalan Laili ini bukan sekadar lukisan yang indah dipandang, melainkan pernyataan yang dalam dan menyentuh realitas. “Dari goresan kuasnya terlihat ketegasan sekaligus kelembutan yang seimbang. Garis-garis dinding batu yang kasar, puing-puing yang berantakan, dan rantai besi yang melilit di pergelangan kaki digambarkan dengan tekstur yang nyata—seolah ingin menegaskan betapa nyata dan beratnya belenggu yang dipaksakan oleh keadaan,” ungkap Soetanto.
Ia menambahkan, pemilihan warna menjadi kunci utama pesan yang ingin disampaikan. “Latar belakang didominasi warna gelap, suram, bernuansa abu-abu dan cokelat tua yang melambangkan keterbatasan, kegelapan, serta penindasan. Namun berhadapan dengan itu, gaun biru pada tokoh utama digoreskan dengan warna yang pekat, hidup, dan memancar—seolah cahaya yang tak bisSoetanto, pengamat budaya asal Jawa Timur, menilai karya andalan Laili ini bukan sekadar lukisan yang indah dipandang, melainkan pernyataan yang dalam dan menyentuh realitas. “Dari goresan kuasnya terlihat ketegasan sekaligus kelembutan yang seimbang. “Garis-garis dinding batu yang kasar, puing-puing yang berantakan, dan rantai besi yang melilit di pergelangan kaki digambarkan dengan tekstur yang nyata seolah ingin menegaskan betapa nyata dan beratnya belenggu yang dipaksakan oleh keadaan,” ungkap Soetanto.
Ia menambahkan, pemilihan warna menjadi kunci utama pesan yang ingin disampaikan. “Latar belakang didominasi warna gelap, suram, bernuansa abu-abu dan cokelat tua yang melambangkan keterbatasan, kegelapan, serta penindasan. Namun berhadapan dengan itu, gaun biru pada tokoh utama digoreskan dengan warna yang pekat, hidup, dan memancar seolah cahaya yang tak bisa dipadamkan. Biru di sini bukan sekadar warna pakaian, melambangkan ketenangan jiwa, keluasan imajinasi, dan kemerdekaan berpikir yang tetap utuh meski berada di tempat yang sempit. Sementara sepatu berwarna merah yang kontras menyiratkan semangat hidup yang tak pernah padam, meski kaki terikat rantai,” urainya.
“Rantai yang tergambar di lukisan itu hanya melilit tubuh bagian bawah kaki yang melangkah tidak pernah menyentuh tangan yang memegang buku, apalagi kepala yang berpikir. Ini simbol yang sangat tajam: kekuasaan bisa membatasi gerak, tapi tak akan pernah mampu menjangkau dan mengikat akal budi. Buku yang digenggam erat, wajah yang tenang tanpa kerisauan, serta cahaya lemah dari lampu minyak tua di sampingnya, semuanya menyatu menjadi pesan: ilmu pengetahuan adalah suaka yang tak bisa ditembus oleh tembok, tak bisa diputus rantai, dan tak bisa dibungkam oleh kekuatan manapun,” lanjut Soetanto.
“Kebebasan yang paling mendasar adalah kebebasan berpikir. Itu adalah harta yang tidak bisa dirampas siapapun. Di tengah zaman yang kerap membatasi ruang gerak dan berekspresi, lukisan ini menjadi pengingat: selama kita masih bisa membaca, merenung, dan berpikir, kita tak akan pernah benar-benar terpenjara,” pungkasnya.
Pameran ini diharapkan dapat menjadi ruang apresiasi sekaligus mengingatkan kembali akan pentingnya menjaga kemerdekaan berpikir dan mencintai ilmu pengetahuan sebagai bagian dari warisan budaya bangsa.a dipadamkan. Biru di sini bukan sekadar warna pakaian, melambangkan ketenangan jiwa, keluasan imajinasi, dan kemerdekaan berpikir yang tetap utuh meski berada di tempat yang sempit. Sementara sepatu berwarna merah yang kontras menyiratkan semangat hidup yang tak pernah padam, meski kaki terikat rantai,” urainya.
“Rantai yang tergambar di lukisan itu hanya melilit tubuh bagian bawah—kaki yang melangkah tidak pernah menyentuh tangan yang memegang buku, apalagi kepala yang berpikir. Ini simbol yang sangat tajam: kekuasaan bisa membatasi gerak, tapi tak akan pernah mampu menjangkau dan mengikat akal budi. Buku yang digenggam erat, wajah yang tenang tanpa kerisauan, serta cahaya lemah dari lampu minyak tua di sampingnya, semuanya menyatu menjadi pesan: ilmu pengetahuan adalah suaka yang tak bisa ditembus oleh tembok, tak bisa diputus rantai, dan tak bisa dibungkam oleh kekuatan manapun,” lanjut Soetanto.
“Kebebasan yang paling mendasar adalah kebebasan berpikir. Itu adalah harta yang tidak bisa dirampas siapapun. Di tengah zaman yang kerap membatasi ruang gerak dan berekspresi, lukisan ini menjadi pengingat: selama kita masih bisa membaca, merenung, dan berpikir, kita tak akan pernah benar-benar terpenjara,” pungkasnya.
Pameran ini diharapkan dapat menjadi ruang apresiasi sekaligus mengingatkan kembali akan pentingnya menjaga kemerdekaan berpikir dan mencintai ilmu pengetahuan sebagai bagian dari warisan budaya bangsa.(msa)





















