SIDOARJO — Festival Tari Darjonesia resmi dibuka di Sidoarjo, Minggu (06/09/2026). Tidak sekadar menghadirkan pertunjukan tari, festival yang digagas Dewan Kesenian Sidoarjo (Dekesda) ini diproyeksikan menjadi ruang temu koreografer dari berbagai daerah sekaligus pijakan untuk membawa Sidoarjo ke panggung seni tari berskala nasional.
Ketua Panitia Festival Tari Darjonesia, Arif Rofiq, mengatakan Darjonesia diharapkan berkembang menjadi salah satu event unggulan Sidoarjo yang memiliki daya jangkau lebih luas. Karena itu, penyelenggaraan tahun ini mulai membuka jejaring dengan koreografer dan seniman dari sejumlah daerah di Indonesia.
“Harapan kita, Darjonesia ini menjadi salah satu event kejayaan di Sidoarjo yang kita kembangkan. Tidak hanya menjadi event lokal, tetapi menjadi event nasional,” kata Arif.
Menurut Arif, upaya memperluas jejaring tersebut mulai terlihat dalam penyelenggaraan Darjonesia tahun ini. Sejumlah koreografer dari luar daerah turut ambil bagian. Pada rangkaian pembukaan, karya tari dari Jakarta dan Mataram dijadwalkan tampil. Sementara dari Jawa Timur terdapat perwakilan dari Sidoarjo dan Kediri.
Sekitar 20 penari, koreografer, dan tim pendukung terlibat dalam penampilan pembukaan. Format pertunjukan dibuat beragam, mulai dari penampilan tunggal, duet, trio hingga kelompok.
Bagi Arif, format dengan jumlah personel yang tidak terlalu besar justru memberikan ruang lebih fleksibel bagi para seniman dalam mengembangkan karya. Selain mendukung eksplorasi artistik, format tersebut juga memudahkan mobilitas para penampil dari berbagai daerah.
Namun, Darjonesia tidak dirancang hanya untuk komunitas seni atau kalangan pecinta budaya. Panitia ingin festival tersebut menjadi ruang apresiasi yang dapat dinikmati masyarakat luas.
“Ini memang forum kebudayaan dan menjadi bagian dari dinamika dunia budaya di Sidoarjo. Tetapi tidak harus hanya dinikmati kawan-kawan pecinta budaya. Masyarakat umum juga diharapkan mampu mengapresiasi,” ujarnya.
Karya-karya yang ditampilkan dalam Darjonesia banyak bergerak pada pendekatan tari kontemporer. Meski demikian, kontemporer yang dimaksud bukan karya yang sengaja dibuat rumit atau sulit dipahami masyarakat.
Pendekatan kontemporer justru menjadi ruang bagi seniman untuk menghadirkan gagasan baru, membaca realitas kekinian, sekaligus melakukan eksplorasi artistik dengan tetap memiliki pijakan pada tradisi.
Ketua Dekesda, Ribut Wijoto, menegaskan Darjonesia memiliki konsep yang berbeda dengan festival tari yang semata-mata berorientasi pada pertunjukan. Sidoarjo dalam festival ini bukan sekadar menjadi “tuan rumah”, melainkan bertindak sebagai penyelenggara.
“Lebih tepatnya Sidoarjo itu penyelenggara, bukan tuan rumah. Kalau tuan rumah itu bergantian. Tahun ini Jawa Timur, tahun berikutnya Sumatera Utara, misalnya. Tetapi Darjonesia memang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Sidoarjo,” jelas Ribut.
Ia mengatakan, berbagai event tari masih banyak digelar di Indonesia. Namun, ruang yang secara khusus mempertemukan koreografer untuk membicarakan karya, gagasan, proses kreatif, dan perkembangan tari dinilai masih terbatas.
“Beberapa tahun terakhir tidak ada pertemuan koreografer tari di Indonesia. Yang banyak adalah event pertunjukan tari. Karena itu kami mencoba mengisi ruang kosong tersebut,” katanya.
Karena itu, Darjonesia dirancang bukan semata sebagai panggung pertunjukan. Koreografer ditempatkan sebagai subjek utama festival. Karya yang dipentaskan menjadi pintu masuk untuk membicarakan gagasan, filosofi, teknik, proses kreatif hingga kebaruan yang ditawarkan masing-masing seniman.
Setelah pertunjukan pada hari pertama dan kedua, peserta dan penonton akan diajak masuk ke sesi diskusi. Pembahasan karya akan melibatkan Robi dari Universitas Negeri Malang, dengan moderator Heri Prasetyo dari Surabaya.
“Yang utama adalah koreografernya. Masing-masing koreografer menampilkan karya. Tidak harus dia sendiri yang menari. Bisa saja orang lain karena yang kita tampilkan adalah karya dia,” tutur Ribut.
Melalui forum tersebut, para koreografer mendapatkan kesempatan untuk menjelaskan bagaimana sebuah karya lahir. Mulai dari sumber inspirasi, proses kreatif, konsep, filosofi, teknik, hingga perspektif seniman terhadap realitas yang menjadi pijakan karya.
Ribut menyebut Darjonesia lebih banyak bergerak di wilayah tari kontemporer. Namun, ia menegaskan bahwa kontemporer tidak identik dengan meninggalkan tradisi.
“Kontemporer itu kebaruan. Tetapi kebaruan tidak berarti baru 100 persen. Ia bergerak di antara inovasi dan tradisi. Ada persinggungan antara tradisi dan kebaruan,” sebutnya.
Konsep tersebut sekaligus menjadi upaya Dekesda memperluas cara pandang masyarakat terhadap dunia tari. Dalam ekosistem seni tari, penari dan karya bukan satu-satunya unsur penting. Di balik sebuah pertunjukan terdapat koreografer sebagai pencipta yang memiliki gagasan, perspektif, serta proses kreatif yang menentukan arah sebuah karya.
Ribut mengibaratkan kondisi tersebut dengan dunia musik. Masyarakat lebih sering mengenal penyanyi dibandingkan pencipta lagu. Padahal, gagasan dan proses kreatif pencipta merupakan bagian penting dari lahirnya sebuah karya.
“Kami ingin memberi ruang kepada para koreografer. Harapannya, karya tari di Indonesia semakin berkembang,” katanya.
Menurut Ribut, tari juga tidak bisa dipandang sekadar sebagai rangkaian gerakan tubuh. Tari merupakan media komunikasi yang memungkinkan seorang seniman menyampaikan gagasan, pesan, persoalan, sekaligus perspektifnya terhadap kehidupan.
“Karya tari adalah sebuah sikap, sebuah perspektif dari seorang seniman terhadap sesuatu. Bisa terhadap realitas, tema tertentu maupun persoalan tertentu,” tegasnya.
Selain pertunjukan tari, pembukaan Darjonesia juga dimeriahkan dengan penampilan seni lainnya. Dekesda yang selama ini menjadi ruang aktivitas para pelaku seni di Sidoarjo menghadirkan kelompok karawitan secara bergantian untuk membangun suasana kebudayaan selama festival berlangsung.
Pembukaan Darjonesia menjadi penanda dimulainya upaya membangun ekosistem tari yang tidak hanya berorientasi pada panggung, tetapi juga pada pertukaran gagasan dan pengetahuan.
Festival ini diharapkan menjadi ruang bertemunya karya, koreografer, seniman, akademisi, komunitas, dan masyarakat. Dari Sidoarjo, Darjonesia ingin menjadikan tari bukan hanya sesuatu yang ditonton, tetapi juga dibicarakan, dikaji, dan terus dikembangkan.
Target akhirnya bukan sekadar menjadikan Darjonesia sebagai agenda seni tahunan, melainkan membangun sebuah ruang kebudayaan yang memiliki jejaring lebih luas hingga tingkat nasional.
Dari Sidoarjo, Darjonesia membuka panggung baru bagi tari: mempertemukan karya, mempertemukan gagasan, dan mempertemukan para penciptanya. (msa)





















