SIDOARJO – Festival Tari Darjonesia resmi ditutup pada Senin (7/9/2026) dengan catatan positif. Lebih dari sekadar panggung pertunjukan, gelaran perdana ini dinilai berhasil menghidupkan kembali ruang pertemuan koreografer tari yang sempat vakum dalam beberapa tahun terakhir di kalender seni pertunjukan Indonesia.
Ketua Dewan Kesenian Sidoarjo (Dekesda), Ribut Wijoto, menjelaskan bahwa Darjonesia dirancang khusus untuk mengisi kekosongan forum diskusi antar-koreografer. Menurutnya, meskipun event pertunjukan tari sangat marak hingga tingkat desa, ruang untuk bertukar gagasan, wacana, dan pengetahuan teknis mengenai koreografi justru minim.
“Dalam beberapa tahun terakhir di Indonesia ini tidak ada event pertemuan koreografer tari. Terakhir, seingat saya, sekitar 2022. Yang banyak justru event pertunjukan tari,” ujar Ribut saat acara penutupan.
Melalui Darjonesia, Dekesda menghadirkan sembilan koreografer dari berbagai latar belakang, yakni empat dari Jawa Timur, empat dari luar Jawa Timur, serta satu koreografer internasional dari Jepang. Ribut menekankan bahwa pertemuan ini vital bagi perkembangan seni tari karena fokus pada ide, gagasan, dan pengembangan masa depan, bukan hanya eksekusi pentas.
“Kalau pertemuan koreografer, yang dibicarakan adalah ide-ide tentang tari, gagasan, wacana, pengetahuan, dan pengembangan bidang tari,” jelasnya.
Interaksi Lintas Daerah dan Negara
Keberagaman peserta menjadi kekuatan utama festival ini. Interaksi antarkoreografer dan penari membuka peluang jejaring seni yang lebih luas. Salah satu contoh kolaborasi unik ditampilkan oleh Suryadi Mulawarman, koreografer asal Mataram, yang karyanya dibawakan oleh mahasiswa asal Mataram yang sedang menempuh pendidikan di ISI Yogyakarta.
Respons positif mengalir deras dari para peserta. Mas Iin, koreografer asal Indramayu, menilai Darjonesia sebagai event luar biasa yang perlu dilanjutkan. Bahkan, sejumlah koreografer telah menyatakan minat untuk kembali tampil di edisi berikutnya.
Menanggapi antusiasme tersebut, Ribut memastikan bahwa Darjonesia akan terus berlanjut. “Tentu akan kita lanjutkan di Darjonesia II tahun 2027. Semoga persiapannya bisa lebih baik dan pelaksanaannya juga bisa lebih baik,” tegasnya.
Kesan Mendalam Seniman Jepang
Penampilan seniman mancanegara juga memberikan warna tersendiri. Noriko Muragasih (51), penari asal Jepang, mengaku bangga dapat berpartisipasi dalam festival ini atas ajakan rekannya, Mas Iin. Bagi Noriko, penampilan di Sidoarjo merupakan bagian dari rangkaian tur seni di Indonesia, setelah Solo dan sebelum melanjutkan ke Jogja serta Purworejo.
“Saya sangat bangga sekali. Ini kegiatan yang luar biasa sekali yang diselenggarakan oleh Mas Rofiq,” kata Noriko.
Selain menikmati pertunjukan, Noriko menyampaikan kekaguman sekaligus rasa “iri” terhadap ekosistem seni di Indonesia. Ia menilai anak-anak Indonesia memiliki akses dan ruang yang jauh lebih beragam untuk mengenal seni tradisional maupun kontemporer sejak usia dini dibandingkan di negaranya.
“Pernyataan Noriko menjadi catatan menarik bahwa Darjonesia tidak hanya mempertemukan pelaku seni lokal, tetapi juga membuka dialog budaya dengan seniman internasional,” tutup laporan.
Dengan keberhasilan edisi perdana ini, Dekesda berharap Darjonesia dapat menjadi pijakan kuat bagi terbangunnya ekosistem pertemuan koreografer yang berkelanjutan di Sidoarjo dan Indonesia. (msa)





















