KABUPATEN SEMARANG — Dalam rangka memperingati Hari Tari Dunia yang jatuh setiap 29 April, Lembaga Kesenian Kabupaten Semarang menggelar pentas seni kolosal yang melibatkan puluhan kelompok tari dari berbagai wilayah. Kegiatan ini berlangsung meriah dengan partisipasi sekitar 48 kelompok tari dari seluruh Kabupaten Semarang dan sekitarnya.
Ketua Lembaga Kesenian Kabupaten Semarang sekaligus penggagas acara, Rama Pujiyanto, menjelaskan bahwa perhelatan ini merupakan agenda kedua yang berhasil diselenggarakan setelah sebelumnya digelar di Kecamatan Bergas. Tahun ini, kegiatan dipusatkan di Kecamatan Ambarawa dengan skala yang lebih besar dan partisipasi yang meningkat signifikan.
“Ini adalah kali kedua kami menyelenggarakan kegiatan memperingati Hari Tari Dunia. Yang pertama di Kecamatan Bergas, dan tahun ini di Kecamatan Ambarawa dengan jumlah peserta yang lebih banyak,” ujar Rama saat ditemui di sela acara.
Menurutnya, tujuan utama dari kegiatan ini adalah untuk mengajak sanggar-sanggar tari serta para pelaku seni di Kabupaten Semarang agar turut aktif memperingati Hari Tari Dunia, sekaligus memberikan ruang ekspresi bagi generasi muda untuk menampilkan kreativitas mereka.
“Kami ingin memberikan kesempatan kepada adik-adik dari berbagai sanggar untuk menampilkan tarian sesuai dengan kemampuan dan karakter masing-masing. Lembaga Kesenian hanya menyediakan ruang, waktu, dan wadah agar mereka bisa berkreasi,” tambahnya.
Pentas seni kolosal ini mengusung tema “Sang Penari”, yang mencerminkan semangat para penari sebagai penjaga sekaligus penggerak kelestarian budaya. Beragam jenis tarian ditampilkan, mulai dari tari tradisional khas daerah hingga kreasi kontemporer yang memadukan unsur modern tanpa meninggalkan nilai budaya.
Menariknya, kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang pertunjukan seni, tetapi juga sarana edukasi dan pelestarian budaya bagi masyarakat luas. Antusiasme peserta dan penonton terlihat tinggi sejak hari pertama pelaksanaan.
Rama juga mengungkapkan bahwa terselenggaranya acara ini tidak lepas dari dukungan Pemerintah Kabupaten Semarang. Ia mengapresiasi kepedulian pemerintah daerah terhadap pelestarian seni dan budaya lokal.
“Kami mendapat dukungan dari Pemkab Semarang yang turut peduli terhadap perkembangan seni budaya di daerah. Ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus menghadirkan kegiatan serupa di masa mendatang,” ujarnya.
Dengan jumlah peserta mencapai 48 kelompok, peringatan Hari Tari Dunia tahun ini digelar selama dua hari, yakni mulai tanggal 25 hingga 26 April 2026. Meski peringatan resmi jatuh pada 29 April, pelaksanaan lebih awal dilakukan untuk menyesuaikan dengan kesiapan peserta dan agenda daerah.
Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi agenda rutin tahunan yang tidak hanya memperingati Hari Tari Dunia, tetapi juga memperkuat eksistensi seni tari di Kabupaten Semarang serta mendorong lahirnya generasi penari yang kreatif dan berdaya saing.
Melalui panggung kolosal ini, semangat “Sang Penari” tidak hanya menjadi tema, tetapi juga menjadi simbol dedikasi para seniman dalam menjaga warisan budaya agar tetap hidup dan berkembang di tengah arus modernisasi.(msa)



























