KABUPATEN SEMARANG — Di tengah ramainya aktivitas masyarakat dan deretan pedagang kaki lima pada hari Sabtu (25 April 2026), sosok Riyatno tampak setia menunggu pembeli di balik gerobak sederhana bertuliskan “Permen Gulali”. Pria asal Tegal ini telah menekuni usaha tersebut sejak sekitar tahun 1987, menjadikannya salah satu pelaku usaha tradisional yang mampu bertahan lintas generasi.
Dengan pengalaman hampir empat dekade, Riyatno tetap mempertahankan cara pembuatan gulali yang khas dan sederhana. Permen berbahan dasar gula ini masih diminati, terutama oleh anak-anak dan pembeli yang bernostalgia dengan jajanan masa kecil.
Dalam kesehariannya, Riyatno biasa mangkal di kawasan sekitar Sukarame. Ia mengaku telah berjualan di beberapa titik selama perjalanan usahanya, termasuk di Mirota selama kurang lebih 6 tahun dan di Banowati selama sekitar 7 tahun. Perpindahan lokasi dilakukan untuk menyesuaikan dengan peluang pasar dan keramaian pembeli.
Meski persaingan dengan jajanan modern semakin ketat, Riyatno tetap optimistis. Baginya, gulali bukan sekadar makanan, tetapi juga bagian dari budaya yang harus dijaga.
“Yang beli sekarang bukan cuma anak-anak, orang dewasa juga banyak yang kangen jajanan dulu,” ujarnya sambil melayani pembeli.
Keberadaan pedagang seperti Riyatno menjadi bukti bahwa usaha tradisional masih memiliki tempat di hati masyarakat. Dengan ketekunan dan konsistensi, ia terus menjaga eksistensi permen gulali di tengah arus modernisasi kuliner.(msa)



























